Berburu Gelar Tanpa Berkabar
Oleh : Nubiah Yaqut As Syifa Ramadhan
Malaysia adalah negara jiran, sering disebut sebagai negara tetangga kita – Indonesia. Selain sering dijadikan tujuan destinasi liburan, Malaysia juga salah satu negara ASEAN yang populer dipilih mahasiswa Indonesia untuk menyambung pendidikan. Mengapa jiran kita mampu menjadikan negaranya sebagai tujuan alternatif mahasiswa melanjutkan studi? Nah, untuk menjawabnya, mari kita ulik universitas nomor 1 di Malaysia, University Malaya. University Malaya atau UM merupakan kampus yang berdiri pada tahun 1905, sekaligus universitas tertua di Malaysia. Lokasinya yang strategis di Kuala Lumpur sebagai ibu kota Malaysia, memberikan UM nilai plus mahasiswa yang ingin menikmati kehidupan kuliah di kota metropolitan.
Maka dari itu, jika ada keinginan untuk melanjutkan studi ke luar negeri khususnya Malaysia, persiapan utama tentunya tak luput dari kemampuan berbahasa asing dan nilai akademis yang mumpuni. Perlu diketahui, bahasa melayu bukanlah bahasa utama di lingkungan kampus di University Malaya. Setiap tempat memiliki cara berkehidupan tersendiri dan tinggal didalamnya berarti menghormati dan beradaptasi sebaik mungkin.
Kuliah di luar negeri bukan sekedar ajang pamer almamater semata. Tantangannya lebih berat daripada yang terlihat di permukaan. Sedikit pepatah motivasi bahwa proseslah yang membuka jalan untuk hasil, namun hasil bukanlah satu-satunya yang dapat dibanggakan.
Lantas apa yang membuat saya memberi nama artikel dengan judul diatas? Dibalik almamater University Malaya yang saya pegang, terdapat petualangan panjang dan janji-janji yang tak pernah tersebut sebelumnya. Saya termasuk kategori orang yang bingung dan sulit memutuskan sesuatu. Saya bahkan sempat tidak terbayang akan apa yang saya lakukan saat dewasa. Saya memiliki mimpi, tapi apakah saya berminat juga menjadi orang berkecukupan? Tentu saya ingin. Namun, saya gagal memahami adanya proses yang disebut ikhtiar.
Saya hanya melakukan upaya sewajarnya. Saya tak berniat untuk menjadi yang terbaik dalam hal apapun. Saya hanya mengikuti alur kehidupan tanpa target. Hingga datang suatu hal yang membuat saya menjadi kalang kabut di penghujung SMA. Saya ingin mendaftar jurusan A, mencoba peruntungan B, dan tertolak juga akhirnya. Saya sempat heran, mengapa pada saat-saat seperti itu keberuntungan tak berpihak pada saya? Setelah direnungkan lagi, ternyata saya yang terlalu santai dalam prosesnya, namun menggebu untuk mendapatkan hasil.
Sungguh pada saat itu, saya adalah orang yang tak berpendirian. Akan tetapi, setelah saya menjalani kehidupan di Malaysia, setelah merasakan senang sedih berselang, saya tersadar apakah saya menginginkan semua ini? Ataukah saya hanya ingin membuktikan pada orang tua serta kerabat saya? ‘berburu gelar tanpa berkabar’ menjadi kiasan saya sejak saat itu. Saya bertekad, selama proses panjang nanti, cukuplah saya dan orang-orang yang terdekat mengetahui perjuangan saya. Cukuplah saya dan Tuhan yang melewati segala jalan kehidupan bersama.
Sebab, tidak semua bunga harus mekar, dan tidak semua lebah harus merasakan madu.
