0 0
Read Time:3 Minute, 32 Second

Menemukan Diri Lewat Seni Transendental Rumi di Konya, Türkiye

Oleh: Shintia Maharani Yusup

 

Konya adalah provinsi terbesar di Türkiye secara luas geografis dan berada di wilayah selatan, tepatnya di wilayah Anatolia Tengah. Berdasarkan persentase, sekitar 94-99% penduduk Türkiye menganut agama islam. Konya sendiri terkenal sebagai kota religius dan spiritualitas Islam di Türkiye, salah satu kota yang wanitanya banyak mengenakan hijab, burka, dan menutup  aurat. Konya juga sangat terkenal sebagai kota para sufi. Salah satu tokoh ulama, penyair, dan sufi terbesar dimakamkan di Konya, yaitu Maulana Jalaluddin Rumi. Ia mewariskan seni transendental yang memiliki nilai dan daya tarik tersendiri sehingga tidak sedikit pengunjung dari luar kota sampai turis dari berbagai belahan dunia datang untuk berziarah ke Konya. 

Rumi semasa hidupnya banyak menulis ghazal atau puisi tentang kasih sayang, kesunyian, dan penderitaan yang biasanya dibaca sambil diiringi musik. Cinta, ego, dan penderitaan adalah beberapa topik yang kerap beliau katakan dalam syair-syairnya, yang dipercaya memiliki kekuatan karena kata-katanya tidak hanya indah, tapi juga kedalaman syairnya pun bersifat universal, melintasi keberagaman agama dan ras, sehingga pengaruh dari warisan rumi dalam seni sufi tetap relevan hingga saat ini, menjelaskan makna yang lebih mendalam tentang kehidupan spiritual dan hubungan manusia dengan Sang Pencipta. 

Seni yang dibangun Rumi bukan semata-mata untuk hiburan dunia dan estetika, melainkan sebagai sebuah sarana pembersihan diri atau yang bisa disebut Tazkiyatun Nafs untuk tersambung dengan Tuhan. Rumi menekankan pentingnya mencintai Tuhan dan mengembangkan hubungan dengan-Nya melalui praktik – praktik sufi seperti dzikir, meditasi dan gerakan gerakan ritual.

Rumi mengilustrasikan dunia dalam berbagai gambaran. Tidak diragukan lagi bahwa dunia adalah manifestasi dari kekuatan kreatif Tuhan, dan jembatan yang membawa manusia kembali kepada Tuhan. Ia juga berkata dalam kitabnya Fihi Ma Fihi; 

 

“Manusia adalah sebuah kitab yang agung, yang di dalam dirinya tertulis segala sesuatu. Namun tabir-tabir dan kegelapan menghalanginya untuk membaca pengetahuan yang ada di dalam dirinya sendiri itu. Tabir dan kegelapan itu adalah berbagai macam kekhawatiran, rencana duniawi, dan keinginan-keinginan yang beraneka ragam.”

 

Dalam kutipannya rumi menyebutkan bahwa makna manusia bukan sekedar fisik melainkan mikrokosmos (alam kecil) yang di mana seluruh rahasia alam semesta serta pengetahuan tentang Tuhan tersimpan. Apabila seseorang ingin Mengetahuinya maka tugasnya ialah membersihkan hati dan melepaskan ego. Ego memiliki banyak definisi, namun secara singkatnya, ego adalah rasa keangkuhan, kesombongan, dan juga identitas diri yang tidak nyata, atau identitas diri yang kerap ditunjukan secara eksternal. Seperti contoh saat ditanya “Siapa dirimu?” maka umumnya akan dijawab dengan hal-hal yang bersifat eksternal dari diri sendiri. Berserah diri, atau melepas ego bukan berarti menjadi lemah dan pasif. Namun sebaliknya, kekuatan sejati yang muncul dari dalam ada pada sikap berserah diri. Ada rasa yakin dalam sikap berserah diri. Keyakinan bahwa segalanya akan baik-baik saja menurut kehendak-Nya, bukan kehendak manusia. Dengan demikian, akan membuat hati senantiasa ‘kosong’. Kosong dalam arti terbebas dari ketakutan dan ketegangan, karena yakin semua akan baik-baik saja.

Salah satu seni transendental Rumi yang melekat dengan peleburan ego dan menjadi simbol perjalanan spiritual manusia menuju Tuhan, yaitu Tarian Sema atau Whirling Dervishes. Para penari atau dervish, berputar melawan arah jarum jam diiringi dengan mengingat nama Allah. Gerakan ini bukan sekadar seni pertunjukan, tetapi seni yang memiliki makna mendalam. Setiap putarannya melambangkan perjalanan manusia meninggalkan ego dan keduniawian. Tangan kanan mengarah ke langit untuk menerima berkah ilahi, sementara tangan kiri mengarah ke bumi untuk menyalurkan berkah itu kepada sesama makhluk. Jubah hitam melambangkan alam kubur, keterikatan duniawi, serta ego manusia yang gelap sebelum mencapai pencerahan spiritual. Sedangkan jubah putih melambangkan kain kafan, simbol kematian diri (ego) untuk kelahiran spiritual yang baru. Topi tinggi melambangkan batu nisan dari ego atau nafsu duniawi. Tarian ini diilhami dari ajaran Rumi yang menekankan cinta sebagai jalan menuju Tuhan. Tari Sema masih terus dipraktikan secara konsisten hingga sekarang dan dapat disaksikan langsung di Konya, Türkiye.

Referensi:

  1. Schimmel,A. (1993). The Triumphal Sun: A Study of the Works of Jalaluddin Rumi. State University of New York Press.
  2. https://www.sabah.com.tr/egitim/konya-nerede-hangi-bolgede-konyanin-ortalama-nufusu-nedir-kac-ilcesi-var-e1-5495973 
  3. https://www.manvsglobe.com/konya-turkey-guide/ 
  4. https://kuliahalislam.com/menyelami-warisan-rumi-dan-pengaruhnya-dalam-seni-sufi/
  5. https://greatmind.id/article/seni-melepas-ala-rumi
  6. https://adindaazzahra.id/menengok-kota-sufi-rumi-di-konya/ 
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By PPI TV

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *