Oleh: Carissa Laverna
Kuliah di Jerman adalah impian bagi banyak orang dan salah satunya adalah diri saya. Ketika saya berumur 16 tahun saya sudah memiliki mimpi untuk kuliah di Jerman. Hal itu terjadi ketika ada event education fair yang dilaksanakan pada tahun 2019 di sekolah saya, saat itu vendor agent untuk membantu siswa untuk kuliah di Jerman datang ke sekolah saya dan saya langsung tertarik untuk melakukan studi di Jerman. Dan ketika saya mendapatkan kesempatan untuk kuliah di negara ini ada banyak harapan dan ekspektasi yang tinggi. Saya membayangkan suasana belajar yang modern, teman-teman dari berbagai negara, hingga kehidupan mandiri yang seru dan menantang. Namun, setelah benar-benar menjalaninya, saya menyadari bahwa pengalaman ini jauh lebih kompleks dan juga lebih membentuk diri saya daripada yang saya kira.
Saya tiba di Jerman tahun 2022 bulan Juli dengan perasaan yang campur aduk dan tidak percaya bahwa saya beneran memulai hidup saya sebagai mahasiswa rantau di Eropa. Banyak sekali tantangan pertama yang saya hadapi mulai dari culture shock, karena kepribadian orang Jerman yang cepat dalam bekerja. Contohnya saat saya pergi ke supermarket , penjaga kasir memindai barangnya dengan cepat. Dilanjutkan dengan keterbatasan bahasa, serta rasa asing karena jauh dari keluarga dan zona nyaman lalu saya juga mulai merasakan homesick. Terlebih saya harus mulai hidup mandiri karena tidak ada yang memasakan saya makanan. Meskipun demikian, saya bisa beradaptasi dengan baik dan pelan-pelan mulai terbiasa.
Saya mulai belajar mengatur waktu sendiri, dari hal-hal sederhana seperti mencuci pakaian, memasak, hingga mengurus administrasi seperti asuransi, bank, dan visa. Salah satu hal yang paling menantang adalah sistem birokrasi di Jerman yang cukup rumit dan berbeda dari apa yang saya kenal sebelumnya. Saya harus belajar bersabar dan teliti, apalagi ketika berhadapan dengan dokumen-dokumen resmi dalam bahasa Jerman. Dan saat saya mengikuti kelas dalam bahasa Jerman, awalnya saya merasa sangat kewalahan. Meski sebelumnya saya sudah belajar bahasa Jerman di tanah air, nyatanya memahami percakapan sehari-hari sangat berbeda dengan memahami bahasa akademik di ruang kelas. Untungnya saya memiliki teman baik yang mau membantu saya. Namun, seiring waktu dan dengan usaha yang konsisten, saya mulai terbiasa. Saya juga mulai lebih aktif bertanya, berdiskusi dengan teman sekelas, dan bahkan ikut kelompok belajar kecil. Semua itu membantu saya tidak hanya memahami materi, tetapi juga meningkatkan kemampuan bahasa Jerman saya secara signifikan.
Meskipun saya sudah 3 tahun di Jerman, saya masih harus banyak belajar. Kemampuan bahasa Jerman saya masih jauh dari kata sempurna dan saya masih sering menghadapi tantangan, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun di dunia akademik. Namun, dari setiap kesulitan yang saya hadapi, saya selalu mendapatkan pelajaran baru yang membuat saya tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat dan mandiri. Kuliah di luar negeri bukan hanya tentang meraih gelar, tetapi juga tentang perjalanan menemukan diri sendiri di tengah berbagai tantangan dan perubahan.
