What? Kuliah di Tiongkok? Kok bisa? Bagaimana umat muslim menjalankan ibadah di sana? Salat di mana? Apa ada masjid yang komunis di Tiongkok? Tenang Piders, walaupun Tiongkok itu negara komunis, tetapi di sana ada banyak masjid, lho. Setiap kota di Tiongkok minimal mempunyai satu masjid, tetapi di kota besar seperti Shanghai atau Beijing, jumlahnya bisa lebih dari satu, Piders.
Banyak masjid besar di Tiongkok seperti Masjid Raya Xi’an di kota Xi’an, Masjid Niujie di Beijing, Masjid Xiaotaoyuan di Shanghai, Masjid Phoenix di Hangzhou, Masjid Huaisheng di Guangzhou, dan masih banyak lagi.
Selain masjid-masjid besar tersebut, ada satu masjid kecil di Kota Yangzhou. Kota Yangzhou sendiri adalah salah satu kota di Provinsi Jiangsu yang bersebelahan langsung dengan Kota Nanjing. Di kota ini hanya terdapat dua masjid, salah satunya adalah Masjid Xianhe.
Masjid Xianhe (仙鹤-Xiānhè) atau Masjid Burung Jenjang adalah masjid yang dibangun oleh keturunan Nabi Muhammad SAW. pada tahun 1275 Masehi. Masjid ini dinamakan Masjid Burung Jenjang karena arsitekturnya menyerupai burung jenjang dengan ciri khas gabungan arsitektur Arab dan Tiongkok. Keturunan Nabi Muhammad SAW. ini bermigrasi dari Arab ke Tiongkok untuk menyebarkan agama Islam dan mempelajari kebudayaan khas Tiongkok. Saat beliau mengunjungi Kota Wuchang, beliau sangat tertarik dengan Menara Huanghelou atau Menara Burung Jenjang Kuning sehingga mengaplikasikan desain menara tersebut menjadi bentuk bangunan masjid.
Adapun bagian-bagian dari Masjid Xianhe meliputi mimbar, bangunan utama masjid, bangunan khusus untuk perempuan, tempat wudhu laki-laki, tempat wudhu perempuan, aula serbaguna, ruang dakwah, dan aula-aula lain untuk kegiatan keagamaan. Selain itu, di dalam masjid ini juga dipajangi foto-foto ketika Presiden Xi Jinping berkunjung ke Masjid Xianhe.
Kegiatan-kegiatan keagamaan seperti salat wajib biasa dilangsungkan di masjid ini. Jemaah paling banyak hadir ialah waktu salat zuhur dan mayoritas merupakan laki-laki. Ketika bulan Ramadan tiba, pengurus masjid biasa mengadakan acara seperti buka bersama di halaman masjid dan ketika ‘Idul Fitri atau ‘Idul Adha tiba, salat hari raya dilaksanakan bersama-sama di sana. Seluruh muslim di Kota Yangzhou (dari muslim lokal sampai mancanegara) merayakan hari raya bersama-sama.
Meskipun ada kebebasan untuk menjalankan ibadah, gema suara azan tidak terdengar di sana seperti di Indonesia karena pemerintah Tiongkok melarang penggunaan pengeras suara untuk azan. Di dalam masjid juga terdapat CCTV yang memantau seluruh kegiatan keagamaan yang ada.
Fakta menarik dari masjid ini adalah air yang digunakan untuk berwudu ialah air dingin (saat musim panas) dan air hangat (saat musim dingin tiba). Untuk para lansia yang sudah tidak mampu melaksanakan salat, telah disediakan kursi khusus untuk salat. Adapun para muslim di Tiongkok dalam melaksanakan salat tidaklah menggunakan mukena atau sarung seperti yang ada di Indonesia.
Di dalam masjid ini, terdapat kaligrafi bertuliskan kalimat 敬主爱人 (Jìng zhǔ àirén) yang berarti bertakwalah kepada Allah dan saling menyayangi manusia, serta kalimat 爱国爱教 (Àiguó ài jiào) yang berarti mencintai negara mencintai agama. Kalimat inilah yang mewakili kehidupan muslim di Kota Yangzhou. Kehidupan yang damai. Nah, bagaimana nih Piders? Tertarik untuk kuliah di Tiongkok dan mencoba salat di masjid ini?
Penulis: Sinta Anggraeni
Editor: Adi Suwarno
