1 0
Read Time:3 Minute, 0 Second

Sebagai makhluk sosial, kita diciptakan saling membahu dan membutuhkan. Baik itu dalam perkara kecil, hingga perkara besar yang akan terasa ringan jika dikerjakan bersama. Namun, realitanya banyak orang yang membutuhkan tapi tak sampai dalam menyampaikan. Banyak yang ingin mengutarakan, tapi terhalang kata.

Hampir 40% manusia memiliki sifat yang terlalu baik. Dalam artian terlalu berlebihan dalam memberi empati dan simpati. Yang tanpa mereka sadari hal itu berdampak buruk bagi mereka dan kesehatannya. Menjadi seorang yang baik memang baik. Namun, dalam beberapa situasi, berbaik hati kepada orang lain secara berlebihan justru dapat menjadi bumerang untuk kita sendiri. Pada dasarnya, perbuatan baik merupakan bentuk kepedulian kepada orang lain, jika dilakukan dengan tepat.

Sikap terlalu baik kepada orang lain tak selalu berimbas baik terhadap diri sendiri. Tak jarang, sikap tersebut malah menyebabkan banyak kerugian; secara fisik maupun mental. Ada beberapa efek samping yang disebabkan karena menjadi “orang yang terlalu baik”.

  1. Tidak Punya Batasan Diri

Kebiasaan mengiyakan dan membantu orang lain secara berlebihan, dapat membuat kita lupa bahkan tidak tahu batasan diri kita. Sehingga terkadang jika kita gagal atau tidak bersedia membantu, akan timbul rasa bersalah dan menganggap kita sebagai orang lemah. Padahal menolak itu perlu jika tidak sesuai dengan porsi dan batasan kita.

 

  1. Sering Dimanfaatkan Orang Lain

Realitanya kebanyakan orang yang baik dan susah menolak permintaan orang lain akan dijadikan bahan untuk dimanfaatkan. Padahal itu sangat berdampak buruk bagi “si nggak enakan” karena akan terus mencederai dirinya dan terus dimanfaatkan orang lain. Orang lain pun akan menjadi jahat bahkan berketergantungan kepadanya.

  1. Punya Ekspektasi Tinggi Terhadap Orang Lain

Menjadi orang yang terlalu baik seringkali memicu munculnya ekspektasi-ekspektasi baik terhadap orang lain. Selalu beranggapan jika kita berbuat baik, mereka pasti akan menjadi baik dengan kita. Padahal, tetap saja memilah adalah hal yang tepat. Kita harus memilih dan memilah mana yang harus, perlu, bisa, bahkan tidak perlu untuk dibantu. Sehingga kita tidak akan punya ekspektasi tinggi bahwa orang lain akan melakukan hal yang sama. Karena kebanyakan orang berekspektasi akan mendapat perlakuan sama atau lebih, sehingga jika tidak mereka dapatkan, juga akan berdampak pada kesehatan dan dirinya.

Bahkan ada dampak yang paling rentan dengan kesehatan mental. Menjadi orang yang terlalu baik, tidak bisa melakukan penolakan, serta menghindari kesalahan bisa membuat seseorang tidak bahagia. Di sisi lain, itu dapat menjadi gejala good girl syndrome. Dikutip dari AYOBANDUNG.COM, Pada dasarnya, good girl syndrome muncul sebagai hasil didikan yang menuntut kita menjadi orang baik. Dalam Hello Sehat, dijelaskan bahwa tuntutan menjadi baik bagi orang lain dan sekitarnya memang diperlukan. Hanya saja, orang dengan good girl syndrome jadi menggantungkan harga dirinya pada kebahagiaan orang lain.

Good girl syndrome juga membuat seseorang memendam emosi dan keinginan diri sendiri demi kepentingan atau kebaikan orang lain. Hal ini karena mereka merasa dituntut untuk menyesuaikan diri dan bermain aman demi menghindari kritikan, konflik, kesalahan, maupun penolakan. Good girl syndrom nyatanya bisa berdampak buruk pada kesehatan mental seseorang. Kondisi ini bahkan bisa jadi penghalang untuk apa pun yang anda impikan karena terlalu khawatir dalam mengambil keputusan.

So, Piders, menjadi baik itu harus. Tapi kita perlu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Jangan takut salah karena kamu telah mencoba. Yang salah adalah orang yang tidak pernah mencoba. Tidak membantu bukan berarti kamu sedang menjadi jahat, melakukan penolakan belum tentu kamu sedang tidak menjadi baik. Ketika seseorang datang dan meminta bantuan kepadamu, tanyakan kepada dirimu, apakah itu adalah tempatnya dan apakah tidak melebihi kapasitasmu? Jika sesuai dengan kapasitasmu, bantulah. Jika tidak, tinggalkanlah. Tinggalkanlah yang menyakitimu, jauhilah yang akan membahayakanmu. Hidup bukan tentang siapa yang paling baik, tapi siapa yang berusaha dan selalu belajar menjadi baik, tapi pada tempat yang baik.

 

Penulis : Nia Rezky Mardhatillah

Editor : Fathimah Azzahra

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
100 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By PPI TV

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *