0 0
Read Time:3 Minute, 2 Second

“Mempelajari bahasa lain tidak hanya mempelajari kata-kata yang berbeda untuk hal yang sama, tetapi mempelajari cara lain untuk memikirkan sesuatu” – Flora Lewis.

Menggenapkan masa studi di luar negeri memang memberikan banyak pengalaman belajar yang berbeda. Kuliah di luar negeri tidak hanya memerlukan otak untuk menguasai materi perkuliahan, namun juga merangkap untuk memahami kata demi kata yang diterangkan oleh pengajar dalam aksen yang berbeda sekaligus asing. Tentu tidak hanya mengandalkan otak, melainkan juga indera pendengaran yang harus siap sedia menangkap informasi dengan penuh konsentrasi dan kesabaran.

Tidak dipungkiri bahwa sebagian besar orang menaruh harap jika belajar di luar negeri maka pengalaman berbahasa asing akan semakin terasah dan berkembang. Namun seberapapun previlage yang dimiliki oleh seseorang jika ia tidak mengoptimalkan peluang yang ada, maka semua akan sia-sia. Padahal, fakta membuktikan bahwa dengan mempelajari bahasa, tanpa sadar kita melatih otak untuk memaksimalkan kekuatan otak untuk menyimpan maupun mengambil informasi.

Jika banyak teori, kursus bahasa, atau hafalan kosa kata telah diupayakan, namun setelahnya masing-masing individu mandeg dan tidak ada tindak praktik untuk berbicara dengan bahasa asing, maka seorang individu akan tetap kesulitan di kemudian hari. Hal tersebutlah yang sering kali menjadi kendala bagi para mahasiswa luar negeri yang diharuskan untuk menggunakan bahasa asing baik itu dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam proses pembelajaran. Berdasarkan pengalaman salah satu mahasiswa International University of Africa, bahwa dalam sehari-hari jika ia tidak bertemu dengan penduduk negara setempat atau warga asing selain dari benua Asia, maka bahasa Arab atau Inggris jarang sekali digunakan.

Sudah menjadi hal yang maklum, jika praktik akan membuat kita bisa atau bahkan mahir dalam melakukan sesuatu. ‘Alah bisa karena biasa’, demikian kata pepatah. Lantas inilah yang menjastifikasi bahwa latihan atau praktik itu penting. Letak pentingnya ialah, ketika kita berlatih atau mempraktikkan sesuatu secara berulang, maka hal tersebut akan lebih mudah melekat dalam memori otak atau bahkan ditangkap oleh pikiran bawah sadar.

Sebagaimana anak pesantren yang menjadikan bahasa Arab serta Inggris bahasa wajib mereka sehari-hari sebagai budaya yang pantang ditentang, maka efek yang ditimbulkan ialah mereka lekat dengan bahasa tersebut, bahasa yang mereka gunakan sehari-hari, walaupun dari situ terbentuklah yang disebut ragam bahasa, atau biasa kita kenal dengan ‘bahasa anak pesantren’ yang terkadang tidak sesuai kaidah namun dibuat sesuai kreativitas dan kesepakatan dalam lingkungan mereka. Dalam hal ragam bahasa yang timbul di sini, itu tentu dapat diperbaiki secara penggunaannya, atau tetap dilestarikan sebagai bentuk kreativitas mereka dan membersamai proses pembelajaran mereka.

Lebih daripada hal di atas, faktor yang kerap menjadi kendala ialah seorang pencari ilmu kurang memiliki keberanian yang kuat untuk berani bersuara di kelas. Kelas merupakan tempat krusial bagi seorang mahasiswa. Merupakan saat yang tepat bagi mahasiswa untuk berdiskusi dan bertanya berbagai hal kepada pengajar di kelas atau sebuah forum, selain dari segi keilmuan yang akan bertambah, pengalaman dan keberanian berbicara bahasa asing di depan publik juga akan semakin terlatih.

Sangat penting bagi mahasiswa untuk memanfaatkan masa studinya


Tumore prostatico: la prognosi in base a stadio, grado e rischio

Tumore prostatico: la prognosi in base a stadio, grado e rischio

terlebih di luar negeri. Hal ini lebih dari sekadar pengalaman, melainkan juga meningkatkan kekuatan berpikir serta konsentrasi. Selain daripada itu, penguasaan bahasa asing bagi seseorang ialah langkah untuk menjadi generasi yang dapat diandalkan. Mengapa? Sebab dengan kehadiran teknologi pada kehidupan saat ini, penting bagi manusia untuk menyabet informasi secara cepat dan dibutuhkan adanya daya telaah yang baik serta kecerdasan dalam menyelesaikan masalah.

Sebuah kutipan menarik dari Frank Smith, “Satu bahasa membuat kamu berada di koridor kehidupan. Dua bahasa membuka setiap pintu di sepanjang jalan.” Seorang pencari ilmu akan selalu berusaha membuka setiap pintu menuju pelajaran yang baru. Oleh sebab itu sebagai pencari ilmu pembelajaran sebaiknya dilakukan melalui dua metode, yakni teori dan aplikasi.

Penulis: Fajar Nur Zaima

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
100 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By PPI TV

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *