0 0
Read Time:4 Minute, 0 Second

Jerman — Momen Idul fitri selalu memiliki tempat istimewa di hati umat Muslim, termasuk bagi ribuan warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal jauh dari kampung halaman. Di tengah hiruk pikuk kehidupan diaspora, perayaan Idulfitri 1446 Hijriah di Jerman tahun ini menjadi oase kebersamaan yang hangat dan mengharukan.

Dua perayaan besar yang dihelat di Hamburg dan Berlin, masing-masing oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hamburg dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Berlin, menjadi bukti bahwa semangat silaturahmi dan keislaman tetap hidup di tanah perantauan. Lebih dari 1.500 WNI berkumpul, saling bermaafan, dan menyatu dalam suasana Lebaran yang menggugah hati.

Hamburg: Langit Mendung, Hati Cerah

Di kota pelabuhan Hamburg, aula milik KJRI menjadi saksi kebersamaan lebih dari 800 WNI dari berbagai penjuru Jerman utara. Salat Idulfitri digelar dalam dua sesi: pukul 08.00 dan 09.00 waktu setempat. Masing-masing dipimpin oleh imam yang berbeda—Ustaz Ahmad Najib Atoillah dan Ustaz Muhammad Nida’ Fadlan. Jamaah yang hadir terdiri dari pelajar, pekerja migran, hingga keluarga Indonesia yang telah lama menetap di Jerman.

Meski cuaca pagi itu sedikit mendung, atmosfer di dalam aula justru sebaliknya—terang oleh senyum dan hangatnya pelukan silaturahmi. “Lebaran seperti ini menjadi sangat berarti bagi kami yang jauh dari orang tua. Di sini, kami belajar membangun keluarga baru,” ujar Rina, seorang tenaga profesional di Hamburg yang telah bermukim di Jerman selama lima tahun.

Usai salat, acara dilanjutkan dengan temu kangen dan ramah tamah. Hidangan khas Indonesia seperti ketupat, rendang, sambal goreng ati, serta kue-kue lebaran disajikan dengan penuh cinta oleh komunitas dan relawan. Musik religi yang diputar pelan menambah nuansa damai dan syahdu di tengah aula yang dipenuhi rindu.

 

Berlin: Antrean Panjang, Rasa yang Panjang di Hati

Sementara itu di Berlin, sekitar 700 WNI memadati kompleks KBRI sejak pagi. Aula dibuka pada pukul 07.00 CEST, dan salat Idulfitri dimulai pukul 08.00, diikuti oleh khutbah dan doa bersama. Namun puncak kegembiraan terjadi saat para pengunjung menerima makanan khas lebaran yang dibagikan dalam bentuk nasi kotak—dilengkapi opor ayam, dendeng daging, sayur labu siam, serta seafood udang.

“Untuk mahasiswa seperti saya, ini spesial banget! Bisa makan makanan rumahan, rasanya seperti kembali ke pelukan ibu,” ujar Sada, mahasiswa asal Jakarta. Ia menambahkan, “Bahkan bisa cukup buat dua kali makan. Mewah untuk ukuran anak kos!”

Yang membuat momen ini lebih emosional adalah suasana nostalgia yang tak bisa dihindari. Banyak dari mereka telah bertahun-tahun tidak merayakan Lebaran di tanah air. Rasa rindu tak hanya terasa dalam kata-kata, tetapi juga dalam mata yang berkaca-kaca dan pelukan sesama perantau. “Lebaran tahun ini terasa mellow. Bukan karena tidak bahagia, tapi karena makin sadar bahwa keluarga bukan hanya yang di rumah, tapi juga yang kita temukan di perjalanan ini,” tambah Sada.

 

Belajar Hidup dan Tumbuh di Perantauan

Pengalaman tinggal dan belajar di luar negeri tak hanya diisi dengan momen suka, tapi juga tantangan yang menempa. Carissa Laverna, mahasiswa Indonesia yang kuliah di Jerman sejak 2022, mengungkapkan sisi lain dari kehidupan sebagai pelajar internasional. Ia mengisahkan awal perjalanannya yang penuh semangat namun juga penuh adaptasi: mulai dari kendala bahasa, budaya kerja yang serba cepat, hingga birokrasi Jerman yang ketat.

“Datang ke Jerman adalah mimpi yang jadi kenyataan. Tapi setelah dijalani, saya sadar bahwa kuliah di luar negeri jauh dari glamor,” katanya. Carissa harus mengatur hidup sendiri sejak hari pertama: mencuci, memasak, hingga mengurus asuransi dan visa. Tantangan akademik dalam bahasa Jerman juga menjadi ujian tersendiri.

Namun, dari setiap hambatan, tumbuh pelajaran hidup yang mahal. “Saya belajar bertahan, beradaptasi, dan menjadi pribadi yang lebih tangguh. Sekarang, saya tahu bahwa keberhasilan bukan hanya soal gelar, tapi soal proses,” tuturnya.

 

Membangun Makna Baru dari Tradisi Lama

Bagi diaspora Indonesia, Idulfitri tak sekadar momen spiritual, tapi juga peristiwa sosial yang memperkuat identitas. Di tengah keterbatasan geografis, komunitas Indonesia di Jerman berhasil menjaga tradisi, mempererat solidaritas, dan menghadirkan nuansa Indonesia di jantung Eropa.

Acara seperti ini tidak hanya mempertemukan umat dalam ibadah, tapi juga menjadi ajang menjaga nilai-nilai budaya dan kebangsaan. Anak-anak diaspora yang lahir di luar negeri turut diperkenalkan pada tradisi Idulfitri, bahasa Indonesia, dan nilai kekeluargaan.

KJRI Hamburg dan KBRI Berlin pun terus berperan sebagai pelindung sekaligus rumah bagi warganya. Mereka tidak hanya menyediakan tempat, tapi juga menjadi fasilitator komunikasi lintas komunitas Indonesia di Jerman. Kolaborasi antara KBRI/KJRI dan kelompok masyarakat lokal terbukti menjadi kunci keberhasilan acara.

 

Di Tanah Orang, Kita Tetap Satu

Lebaran di negeri orang memang tak pernah bisa menggantikan suasana di kampung halaman. Namun, dengan salat berjamaah, makan bersama, dan pelukan hangat antarperantau, kita tetap bisa merasakan esensi Idulfitri: kemenangan, pengampunan, dan persaudaraan.

Dalam perbedaan bahasa, waktu, dan cuaca, satu hal yang tak berubah adalah semangat orang Indonesia dalam merayakan Idulfitri. Di manapun kita berada, selama ada hati yang tulus dan niat untuk bersatu, Indonesia tetap hidup—meski jauh dari rumah. (Laporan Carissa Laverna)

 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By PPI TV

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *