0 0
Read Time:3 Minute, 36 Second

Turkey – Bagi sebagian orang, Lebaran adalah suara takbir yang membahana di setiap sudut kampung, aroma ketupat yang mengepul dari dapur nenek, hingga hiruk pikuk keluarga besar yang bersalaman selepas salat Id. Namun, bagaimana jika Idulfitri pertama Anda dirayakan jauh dari rumah, di kota kecil dengan bahasa asing, budaya berbeda, dan udara dingin yang menyelimuti?

Inilah kisah Idulfitri saya tahun ini, Idulfitri 1446 Hijriah, yang sangat berbeda dari biasanya—di tanah Anatolia Timur, Turki, tepatnya di Kota Elazığ. Sebuah kota sunyi dengan empat musim, jauh dari riuhnya Yogyakarta yang hangat dan penuh pelukan keluarga.

 

Malam Takbir: Tanpa Gemuruh, Tapi Penuh Kehangatan

Di Indonesia, malam sebelum Idulfitri adalah malam yang penuh gema takbir, anak-anak menyalakan petasan, dan masjid-masjid terang benderang oleh lampu dan suara. Namun, di Elazığ, malam takbir terasa seperti malam biasa. Takbir dikumandangkan hanya di dalam masjid—tanpa pengeras suara, tanpa arak-arakan, dan tahun ini bahkan ditemani hujan deras yang mengetuk-ngetuk jendela rumah kami.

Komunitas warga Indonesia di Elazığ bisa dihitung dengan jari—hanya ada empat mahasiswa. Namun, malam itu justru menjadi hangat karena kami berkumpul di rumah salah satu teman dan memasak hidangan khas lebaran sejak sore hingga dini hari. Ketupat, opor ayam, sambal goreng ati—semuanya kami racik dari bahan seadanya. Suasana di dapur kami tak ubahnya miniatur Indonesia: riuh tawa, aroma rempah, dan cerita rindu yang terselip di sela canda.

 

Salat Id dalam Gerimis dan Pandangan Ramah

Pagi harinya, kami berjalan kaki menuju Masjid Izzetpaşa, masjid terbesar di Elazığ. Langit masih muram dan rintik hujan belum reda. Salat Id dimulai pukul 06.30 tepat. Saya dan teman perempuan naik ke lantai dua, area khusus jamaah perempuan. Seperti yang sudah saya dengar sebelumnya, di wilayah Anatolia Timur sangat jarang perempuan mengikuti salat Id berjamaah.

Benar saja, saat kami datang, hanya ada sekitar 15 perempuan. Kami tampak mencolok—bukan hanya karena wajah asing kami, tapi juga karena pakaian berwarna terang yang saya kenakan. Semua mata sempat menoleh, tapi bukan dengan tatapan curiga, melainkan dengan ketertarikan dan senyum yang ramah. Beberapa ibu paruh baya bahkan menyapa dan berbasa-basi dengan hangat sebelum salat dimulai.

Selepas salat, suasana menjadi lebih hidup. Perempuan-perempuan Turki saling bersalaman dan berpelukan, mengucapkan “Bayramınız mübarek olsun”—selamat hari raya. Dari balkon masjid, saya menyaksikan betapa meriahnya suasana di lantai dasar, tempat para laki-laki salat. Antrean bersalaman mengular panjang, bahkan beberapa warga menyalami imam masjid dan pejabat kota yang hadir. Semua berlangsung tertib, nyaris tanpa pengamanan, tapi tetap penuh kehangatan.

 

Manisnya Cokelat dan Bus Gratis: Tradisi Elazığ yang Ramah

Usai salat, kami kembali ke rumah dalam guyuran hujan yang tak kalah deras. Di rumah, masakan semalam menjadi penawar rindu. Kami makan bersama, bersulang teh hangat, dan bertukar kisah tentang momen Lebaran di rumah masing-masing.

Di Elazığ, tradisi Lebaran cukup berbeda. Tak ada open house besar-besaran seperti di Indonesia, namun masyarakat tetap mengunjungi kerabat dekat dan berbagi manisan. Pemerintah kota pun turut menyemarakkan suasana dengan menggratiskan tarif bus kota selama hari raya. Masyarakat bisa berkunjung ke keluarga tanpa biaya, memperkuat silaturahmi lintas generasi.

Di dalam bus, tradisi “ikram”—yakni berbagi permen dan cokelat—menjadi pemandangan umum. Perempuan-perempuan Elazığ, terutama yang lebih tua, membawa kantong kecil berisi manisan dan membagikannya kepada siapa pun yang mereka temui. Anak-anak tentu menjadi favorit penerima, tapi kami, para perantau dewasa pun kebagian. Dalam satu gigitan cokelat manis itu, ada rasa diterima, dirangkul, dan dimanusiakan.

 

Menemukan Gula dan Garam Sendiri

Tentu, Lebaran di Turki tidak sehangat di kampung halaman. Tak ada pelukan ibu selepas salat Id, tak ada celoteh sepupu-sepupu kecil, dan tak ada nasi tumpeng dari tetangga yang datang tiba-tiba. Namun, di tengah sunyi dan gerimis Elazığ, saya belajar bahwa makna Idulfitri tak harus dirayakan dalam keramaian.

Dengan komunitas kecil, masakan buatan sendiri, dan senyum dari orang asing, saya menciptakan rasa Lebaran saya sendiri—dengan gula dan garam yang saya pilih. Dan justru dalam kesunyian itulah saya menemukan kembali inti dari Idulfitri: kemenangan atas diri, rasa syukur, dan kebersamaan dalam bentuk yang paling sederhana.

 

Dari Elazığ untuk Dunia

Lebaran pertama di perantauan tak selalu megah. Tapi jika dilihat dengan hati yang lapang, justru bisa menjadi titik balik pemahaman spiritual yang mendalam. Elazığ telah mengajarkan saya bahwa rindu bisa diobati bukan hanya dengan pulang, tapi juga dengan menerima, menjalani, dan membagikan rasa. (Laporan Noor Annisa Falachul Firdausi)

 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By PPI TV

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *