0 0
Read Time:4 Minute, 46 Second

Tawa riang terdengar di setiap sudut gedung. Siswa-siswi dari berbagai negara tampak bersalaman dan saling bertukar ucapan perpisahan. Sebagian lainnya sibuk berfoto bersama teman-teman maupun guru-guru mereka.

Suasana gembira memenuhi ruangan di Türkçe Öğretimi Uygulama ve Araştırma Merkezi (TÖMER), Fırat University, Elazığ, Turki. Semua siswanya baru saja menyelesaikan program kursus bahasa Turki tingkat Akademik Türkçe atau setara C2 pada Rabu (2/7). Untuk memperingati pencapaian tersebut, para guru mengadakan acara kelulusan sebagai kenang-kenangan.

Kebanyakan siswa yang hadir hari itu adalah penerima beasiswa dari pemerintah Turki yang disalurkan melalui Yurtdışı Türkler ve Akraba Topluluklar Başkanlığı (YTB), bagian dari Kementerian Luar Negeri Turki. Setelah hampir sepuluh bulan belajar bahasa Turki sekaligus beradaptasi dengan kehidupan masyarakat setempat, masa studi mereka di TÖMER pun berakhir. Berakhirnya program TÖMER juga menandai dimulainya masa libur musim panas, sebelum semester ganjil dimulai kembali.

 

Belajar Bahasa Asing Tidak Selalu Mudah

Rangkaian acara wisuda saat itu berlangsung sederhana. Dimulai dengan sambutan dari salah satu guru, dilanjutkan dengan presentasi dari perwakilan siswa, kemudian dilanjutkan dengan pemotongan kue dan makan bersama. Setelah itu, para siswa saling berfoto ria sebelum akhirnya berpamitan.

Di tengah keceriaan tersebut, sejumlah siswa menyempatkan waktu untuk bercakap-cakap dengan para guru sebelum meninggalkan TÖMER. Obrolan singkat ini menjadi momen terakhir mereka sebagai siswa sebelum resmi menjadi alumni TÖMER.

Siswa-siswa dari berbagai negara di Asia dan Afrika berkumpul sejenak di ruang pertemuan, sebelum akhirnya dipanggil oleh seorang guru ke ruangannya. Di sana, sang guru telah menyiapkan kopi Turki sebagai suguhan. Percakapan dimulai dengan topik santai hingga akhirnya beralih ke cerita tentang pengalaman belajar bahasa Turki.

Lalise, yang mendapat giliran pertama untuk berbicara, mengatakan bahwa ia sangat senang bisa memiliki kesempatan belajar di TÖMER. “Aku merasa beruntung bisa berada di sini, bertemu guru dan teman-teman yang selalu mendukung,” ujar pelajar asal Ethiopia ini.

Berbeda dengan Lalise, Firda dari Indonesia memiliki pandangan yang lebih reflektif. Ia menjelaskan bahwa bahasa Turki sangat berbeda dengan bahasa ibunya, baik dari segi struktur kalimat maupun kosakata. “Awalnya aku sering sekali membuat kesalahan saat berbicara bahasa Turki. Aku bahkan sempat tidak percaya diri saat harus berkomunikasi dalam bahasa ini.”

Teman yang duduk di sebelahnya, Misheck, ikut mengiyakan. Ia juga mengaku sering melakukan kesalahan tata bahasa maupun pengucapan.

Mendengar keluhan tersebut, Ertuğrul Hoca, begitu mereka biasa memanggil gurunya, memberikan dukungan. “Tapi saya yakin nanti kalian akan semakin lancar,” katanya. Ia menjelaskan bahwa tugas guru hanyalah sebagai instruktur dan penyedia alat pembelajaran, sedangkan proses penguasaan bahasa sepenuhnya bergantung pada siswanya sendiri.

Regis, yang akan melanjutkan studi ke jenjang S1 jurusan Keamanan Siber, membagikan pengalamannya yang unik. “Di negaraku, aku belajar ilmu eksakta, jadi awalnya sangat sulit bagi saya untuk belajar bahasa, apalagi bahasa yang sama sekali baru seperti Turki. Awalnya aku khawatir, tapi ternyata aku bisa lulus. Aku juga sadar bahwa belajar bahasa Turki artinya juga belajar budayanya,” kata pelajar asal Rwanda ini, yang dua kali menampilkan tarian tradisional Halay di acara kampus.

Islam, calon mahasiswa doktoral (S3), mengatakan bahwa ia baru mulai memahami bahasa Turki ketika mencapai level B1. Pada level A1 dan A2, ia nyaris tidak mengerti apa pun. Bahkan saat ujian berbicara, ia hampir tidak bisa menjawab. “Waktu itu hanya ada satu kata yang saya pahami, yaitu aile (keluarga). Jadi saya pikir semua pertanyaan pasti tentang keluarga.”

Islam juga mengakui bahwa dialah yang paling sering mengeluh selama kursus bahasa Turki. Dari enam orang yang hadir di ruangan Ertuğrul Hoca, ia merasa dirinyalah yang memiliki kemampuan bahasa Turki paling rendah. Namun, seiring waktu dan latihan terus-menerus, ia merasa perkembangan signifikan dalam kemampuan berbahasanya.

Benjamin, salah seorang peserta lainnya, juga mengakui bahwa pada tingkat A1, ia sempat tidak memahami bahasa Turki sama sekali. Bahkan dalam ujian tertulis, ia salah menafsirkan soal. Namun seperti Islam, ia berhasil bangkit dan kini lebih percaya diri menggunakan bahasa Turki.

Memasuki Tahap Perkuliahan yang Lebih Menantang

Selesainya program TÖMER bukan berarti akhir dari perjalanan pendidikan di Turki. Justru, TÖMER adalah gerbang awal yang harus dilewati sebelum memulai studi lebih lanjut di perguruan tinggi setempat.

Sebelum resmi lulus dari TÖMER, para pelajar ini sudah sering kedatangan kunjungan dari para alumni. Banyak mahasiswa yang telah menyelesaikan program bahasa tersebut datang kembali ke kampus untuk menyapa guru-guru mereka serta memberikan panduan dan nasihat kepada pelajar baru.

Pada tingkat Akademik Türkçe, tiga orang alumni bernama Salik, Abdul Kadir, dan Abdallah sempat datang ke kelas untuk berbagi pengalaman. Mereka menceritakan bagaimana rasanya kuliah menggunakan bahasa Turki. Ternyata, perkuliahan jauh lebih menantang dibandingkan belajar di TÖMER.

Di TÖMER, siswa bisa dengan bebas bertanya jika tidak mengerti kosakata atau penjelasan yang diberikan. Selain itu, guru-guru juga biasanya mengajar dengan tempo yang lebih lambat agar semua siswa mudah memahami materi.

Namun situasi berbeda akan mereka temui saat sudah masuk ke jurusan masing-masing. Dosen-dosen di fakultas umumnya mengajar dengan kecepatan normal tanpa penyesuaian khusus untuk mahasiswa asing. Selain itu, bahasa Turki yang digunakan juga lebih ilmiah dan spesifik sesuai bidang studi yang ditempuh.

Ketiga alumni tersebut menekankan bahwa semester pertama setelah lulus dari TÖMER merupakan masa paling sulit. Mereka harus cepat beradaptasi, baik dalam hal penyampaian materi kuliah, budaya akademik, interaksi sosial, hingga pengerjaan tugas-tugas perkuliahan.

Belajar dengan sepenuhnya menggunakan bahasa Turki memang tidak semudah yang dibayangkan. Namun, Ertuğrul Hoca meyakinkan bahwa kemampuan bahasa mereka akan terus berkembang seiring waktu.

Dulu, ketiga mahasiswa tersebut juga belum lancar berbahasa Turki. Tetapi dalam kurun waktu satu tahun saja, mereka sudah bisa berkomunikasi dengan lancar berkat latihan setiap hari dan bergaul langsung dengan masyarakat lokal.

Oleh karena itu, alih-alih merasa cemas menghadapi masa perkuliahan, para pelajar yang baru saja lulus dari TÖMER disarankan untuk terus meningkatkan kemampuan bahasa mereka. Semakin sering berbicara dan berinteraksi dalam bahasa Turki, semakin mudah pula mereka menyerap materi kuliah dan berani menyampaikan pendapat di ruang kelas nanti.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By PPI TV

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *