Pandemi Covid-19 menyebabkan perubahan peradaban di seluruh dunia, salah satunya di Asia Tenggara. Dampak yang ditimbulkan oleh pandemi ini menyebabkan sektor pendidikan, kesehatan, politik, ekonomi, dan sektor lain mengalami perubahan signifikan dibandingkan dengan sebelumnya.
Atas perubahan yang terjadi, PPI Malaysia menginisiasi acara Southeast Asia Millenial Conference tahun 2021 dengan tema “The Impact of Changes on Civilization Post-Covid19 in Southeast Asia” sebagai bentuk kepedulian terhadap perubahan yang ada. Southeast Asia Millenial Conference adalah konferensi yang dilaksanakan sebagai puncak rangkaian acara publikasi jurnal bagi para generasi muda, akademisi, dan publik umum. Puncak acara ini diselenggarakan selama dua hari, yaitu pada hari Sabtu (6/11) sampai Minggu (7/11).
Pandemi Covid-19 telah membawa peradaban baru pada dunia di mana semua orang dituntut untuk beradaptasi dengan segala perubahan yang ada. Perubahan yang pertama terjadi di bidang pendidikan.

Mantan Menteri Pendidikan Malaysia Mazlee bin Malik mengatakan bahwa pendidikan merupakan salah satu aspek penting bagi peradaban dunia. Praktik pendidikan di masa pandemi ini sangat bergantung pada kecanggihan teknologi internet yang dapat mengubah pendidikan secara tatap muka menjadi virtual.
Menyambung dengan perkataan Mazlee tadi, Dekan Malaysia-Japan International Institute of Technology Universiti Teknologi Malaysia Ali bin Selamat mengatakan bahwa kecanggihan teknologi saat ini sangat dibutuhkan dalam menunjang kegiatan pendidikan. Tidak hanya pendidikan saja, teknologi sekarang sudah menguasai berbagai sektor peradaban dunia tanpa terkecuali. Kemajuan teknologi saat ini ditandai dengan adanya teknologi AI atau Artificial Intelligence.

“AI sudah menjadi terobosan baru dalam dunia teknologi, di mana dengan AI ini kita bisa lebih maju untuk mengembangkan peradaban. Tiongkok bahkan sudah mengembangkan teknologi ini di institusi pendidikannya,” jelasnya.
Namun, seiring dengan kemajuan teknologi yang ada, masyarakat Asia Tenggara masih memiliki masalah dalam menyikapi kemajuan tersebut. Belum adanya pemerataan kesejahteraan sosial menjadi masalah terbesar bagi seluruh negara di Asia Tenggara. Masalah kesejahteraan sosial seperti keterbatasan ekonomi, keterbatasan akses internet, keterbatasan akses pendidikan yang layak, serta keterbatasan lain yang menyebabkan masyarakat kesulitan dalam mengakses pendidikan.
Mazlee bin Malik berpendapat bahwa solusi dari masalah-masalah yang ada saat ini adalah melakukan sinergi dan integrasi antar institusi, pemerintah, dan masyarakat.
“Pemerintah sebagai pembuat kebijakan harus bekerja sama untuk memajukan peradaban dengan menyediakan pendidikan yang layak bagi semua siswa, memperbaiki jaringan internet agar siswa dapat menerima pendidikan secara efektif, dan meningkatkan ekonomi guna membantu masyarakat agar mampu mengakses pendidikan,” terangnya.
Selain masalah akses pendidikan di atas, sektor yang terdampak berikutnya adalah kesehatan. Akibat pandemi covid-19, dunia kesehatan menerima tuntutan untuk menyembuhkan dan menemukan obat bagi penyakit covid-19. Penemuan vaksin oleh para ahli kesehatan adalah salah satu solusi pencegahan virus covid-19. Dengan kesehatan yang baik, masyarakat dapat melakukan berbagai aktivitas tanpa perlu merasa khawatir terserang penyakit.

“Ketika kita mengonsumsi makanan yang bergizi baik dan seimbang, maka tubuh akan dapat memproses makanan tersebut menjadi energi serta meningkatkan kekebalan tubuh sehingga kita dapat melakukan berbagai aktivitas dan makanan juga dapat meningkatkan kecerdasan otak,” tutur Dokter Steven Guntur di Atlantis Medical Center.
Pandemi telah melahirkan berbagai masalah dan tantangan bagi kita semua, tetapi dengan adanya masalah ini bukan berarti kita menyerah. Maka dari itu, kita semua harus saling bekerja sama dan mendukung untuk memperbaiki keadaan dan membuat dunia menjadi lebih baik di masa depan.
Reporter: Sinta Anggraeni
Editor: Adi Suwarno
