Hai, Piders! Piders pernah gak sih mendengar kalimat museum date? Museum date atau jalan-jalan ke museum kini sedang menjadi tren di masyarakat, terutama generasi milenial. Museum yang artsy, aesthetic, dan unique ini menjadi salah satu tempat berburu foto yang instagramable, lho, Piders! Nah, kali ini PPI TV Writer mempunyai cerita salah satu museum yang ada di Kota Yogyakarta. Penasaran? Yuk, simak artikel di bawah ini!
Pameran tunggal “Conviction” karya Atreyu Moniaga diselenggarakan mulai tanggal 19 Februari hingga 3 April 2022 di Tirtodipuran Link Yogyakarta. Tirtodipuran Link merupakan salah satu museum di Jalan Tirtodipuran No. 50, Mantrijeron, Yogyakarta yang telah mewadahi banyak pameran para seniman.
Atreyu bersama kolektornya Nin Djani mengadakan pameran ini dengan bekerja sama dengan Srisasanti Syndicate Gallery dan Kohesi Initiative. Atre dan Nindy (sapaan akrabnya) telah merencanakan pameran ini sejak tahun 2020. Namun, rencana ini baru terealisasi pada tahun 2022.
Atre bercerita bahwa perjalanannya dengan Nindi dalam mewujudkan pameran ini tidaklah mudah. Banyak hal yang terjadi selama Atre mempersiapkan pameran ini. Pandemi Covid-19 menjadi salah satu masalah yang paling berdampak di pameran dan hidupnya. Pandemi Covid-19 telah merenggut nyawa orang-orang terkasih Atre hingga menyebabkannya merasa kehilangan.

Sesuai dengan namanya “Conviction”, pameran ini terinspirasi dari kehidupan pribadi Atre sang seniman. Melalui karya-karyanya, Atre menceritakan fenomena-fenomena dalam kehidupan sehari-hari, terutama mengenai interaksi sosial. Selain interaksi sosial, karya-karya Atre juga memvisualisasikan curhatan pribadinya, tentang perasaannya, kesedihannya, keputusasaannya, dan keluarganya. “Conviction” ini menjadi pameran pengakuan emosi pribadi Atre.
Interaksi sosial yang menarik bagi Atre adalah seperti interaksi sosial pertemanan saat SMA, pertemanan saat kuliah, dan pertemanan saat bekerja. Dalam pertemanan ini, menurutnya, manusia bisa memakai banyak topeng dalam berinteraksi. Manusia bisa memakai topeng kebahagiaan, kesedihan, dan lainnya untuk menutupi perasaan yang sebenarnya. Dalam interaksi sosial juga, manusia tidak bisa menghindari dirinya dijadikan sebagai bahan omongan orang lain. Atre tidak menyukai ketika manusia membicarakan orang lain atau bergosip.
Atre berkata bahwa “Gossip is such a puff thing”.
Topeng-topeng interaksi sosial ini digambarkan Atre pada karyanya yang berupa wajah manusia dengan berbagai ornamen yang dinamakan Visage.
“Topeng itu penting di setiap sosialisasi agar orang ingat dan sebagai identitas serta topeng untuk melawan kejamnya dunia”, ungkap Atre.

Kemudian ada berbagai lukisan yang sangat mencolok dengan dominasi warna kuning, oranye, dan merah di lantai satu galeri. Warna-warna ini diimbangi dengan berbagai gambar dan simbol alam. Gambar dan simbol alam ini mempunyai makna cerita kehidupan pribadi Atre yang tumbuh di kota besar dengan gedung-gedung pencakar langit. Gambar alam dan kehidupan di kota Atre memang sangat berlawanan, namun mempunyai makna unik yaitu bahwa Atre si anak kota mengimajinasikan hutan melalui gambar lukisannya.
“Aku itu anak kota yang tidak suka camping dan takut ular. Maka dari itu, aku mengimajinasikan alam dalam lukisan-lukisanku”, terangnya.

Selain lukisan, Atre juga membuat karya berupa patung yang diberi nama Bhorgh. Bhorgh merupakan patung yang berbentuk ular dengan berbagai bentuk, warna, dan desain. Bhorgh bermakna tentang ketidakpastian hidup dan perubahan adalah keniscayaan.

Bhorgh memberi pesan, “Bila seorang individu terus mengikuti tuntutan dunia luar tanpa menarik batas, maka akan goyah. Kemudian seiring waktu, sebagaimana tanaman liar mengambil alih sebuah gedung tua usang hingga membuatnya terlupakan, menyebabkannya tidak dapat mengenali siapa dirinya yang sesungguhnya”.
Bagi Atre, pameran ini adalah pameran yang sangat personal sebagai bentuk ekspresi dirinya. Atre menyampaikan perasaannya dengan menerima dirinya sendiri, tidak peduli dengan pandangan orang terhadapnya, berani untuk jujur kepada diri sendiri, bahwa menjadi rapuh serta bersedih itu tidak apa-apa serta sebagai pembuktian diri kepada dunia. Atre juga berharap, melalui pameran karyanya ini, orang-orang dapat memahami karyanya sesuai dengan masing-masing pemahaman dalam dirinya.
Penulis :Sinta Anggraeni
Editor : Fathimah Azzahra
Sumber foto: Dokumentasi pribadi
