Salah satu kebahagian terbesar anak muda zaman sekarang adalah ketika mereka tahu mau berkarir seperti apa ke depannya. Memiliki keahlian public speaking alias berbicara di depan umum menjadi hal terpenting dalam jenjang karir. Katanya, di mana pun dan dengan siapa pun kamu bekerja, skill public speaking tetap menjadi skill yang penting diasah.
Nah, siapa nih di antara Piders yang masih “aaa, eee.. aaa, eee..” saat bicara di depan umum? Atau ketika diminta untuk presentasi di depan kelas, Piders tiba-tiba merasa gemetaran?
Mungkin, ada baiknya Piders menyontek 3 Rahasia Public Speaking dari Pendiri Apple Inc, Steve Jobs!
- Practiced and researched it, until it looked natural
Walau dikenal sebagai speaker handal, mampu menarik banyak mata tertuju padanya, Steve Jobs tetap berlatih sebelum menyampaikan materi presentasi. Bagi Steve, latihan adalah koentji. Semakin tinggi jam terbang dan seringnya berlatih, maka akan baik pula kemampuan menyampaikan materi di hadapan audiens. Kem ampuan yang mumpuni tentu tidak didapatkan Steve secara instan, Steve juga membiasakan diri untuk meriset materi yang akan ia bawakan terlebih dahulu. Hal ini dilakukannya secara kontinu dan konsisten hingga ia mahir dan terlihat natural ketika berbicara.
- Keep things simple, so the main message stood out
Menyampaikan banyak hal dan berbicara dengan istilah-istilah asing memang terlihat keren ya, Piders. Tetapi hal ini tidak berlaku bagi Steve Jobs, Piders. Menurutnya, menyampaikan poin-poin penting dengan sederhana lebih membuatnya percaya diri. Alasannya agar informasi utama yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh audiens tanpa terjadinya miss konsepsi atau miss komunikasi. Sebab, salah satu ciri komunikasi efektif adalah tersampaikannya pesan tanpa adanya kesalahpahaman.
- Using personal stories and anecdote to create an emotional response in his audience
Bagi Steve Jobs, menjadi pembicara bukan hanya sekadar berbicara. Namun, lebih dari itu, membangun respon emosional dari audiens juga tidak kalah penting. Steve membangun hubungan emosional dengan audiens dengan menggunakan percakapan yang tidak terlalu formal, tersenyum, menatap hangat audiens, dan menceritakan pengalaman hidupnya. Dengan ini, Steve dapat terhubung dengan audiensnya, pun sebaliknya. Audiens yang mendengar kisah hidup Steve di masa lalu akan merasakan kesamaan antara Steve dengan dirinya, sehingga penyampaiannya lebih mudah untuk dipahami.
Sudah siap meniru Steve Jobs untuk mengasah kemampuan public speaking kamu, Piders?
Penulis: Amelia Ratih Amanda
Editor: Adi Suwarno
