
Sumber gambar: gramedia.com
“Identitas Anda tidak terpahat pada batu. Setiap saat Anda mempunyai pilihan. Anda dapat memilih identitas yang ingin Anda perkuat setiap hari dengan kebiasaan-kebiasaan yang Anda pilih hari ini.”
Identitas seseorang terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan yang ia bangun. Seseorang akan menjadi malas apabila mempunyai kebiasaan-kebiasaan buruk, sebaliknya seseorang akan produktif apabila mempunyai kebiasaan-kebiasaan baik. Quote di atas adalah sebuah penggalan isi buku Atomic Habits milik James Clear. Identitas seseorang tergantung pada kebiasaan yang ia lakukan. Kebiasaan membentuk kita untuk menjadi seseorang. Kita ingin menjadi seperti apa di kemudian hari itu ditentukan oleh kebiasaan yang kita lakukan hari ini.
Berbicara tentang kebiasaan, tidak dapat lepas dari pembahasan self improvement atau pengembangan diri. Sebagai seorang pribadi, manusia akan berkembang dari waktu ke waktu. Perkembangan inilah yang dinamakan self improvement. Pengembangan diri bertujuan untuk membawa diri menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Bergerak menjadi pribadi yang lebih baik membutuhkan proses belajar yang panjang dan merupakan bagian dari konsekuensi logis kesadaran diri bahwa dunia ini dinamis (terus bergerak/berubah).
Mengikuti gerak dunia yang dinamis, kita menyesuaikannya dengan hidup yang dibangun dari kebiasaan. Kebiasan dalam hidup adalah hal yang amat penting untuk diperhatikan, karena sebenarnya hidup adalah tentang rangkaian kebiasaan yang menyambung. Oleh karena itu, kita perlu membentuk kebiasaan baik sesuai dengan proporsi masing-masing. Mengapa? Sebab setiap kebiasaan yang kita pilih, akan membentuk identitas diri kita. Seperti yang dikatakan filsuf Prancis Sartre “kamu adalah apa yang kamu lakukan” dalam bukunya Eksistensialis Adalah Humanis.
Kebiasaan baik diraih dengan usaha dan proses yang konsisten, bukan hanya zim zala bim langsung terwujud secara instan. Kebiasaan perlu dipelajari dan dibangun step by step. Untuk mewujudkan cita-cita mempunyai kebiasaan baik, salah satu kuncinya adalah dengan menerapkan cara pembentukan kebiasaan dalam buku Atomic Habits.
Atomic Habits jika diterjemahkan ke bahasa indonesia berarti kebiasaan atom. Atom sendiri dalam sains dimaknai sebagai suatu satuan dasar materi. Dari judul buku tersebut, James bermaksud mengatakan kepada pembacanya untuk “mengubah kebiasaan dari hal yang sederhana tapi mendasar (fundamental)”. Nah, bagaimana cara James membentuk kebiasaan baik dalam buku Atomic Habits?
Empat langkah menuju pembentukan kebiasaan baik
James menjelaskan bahwa ada 4 langkah sederhana membangun kebiasaan baik yaitu: mendapatkan petunjuk (cue), menumbuhkan gairah (craving), menanggapi (response), dan menikmati hasil (reward).
- Mendapatkan petunjuk (cue)
James menjelaskan bahwa sejak dahulu kala, nenek moyang kita pada zaman prasejarah sudah terbiasa mendapatkan petunjuk. Petunjuk-petunjuk itu berupa bagaimana cara memenuhi kebutuhan pokok, seperti berburu; bagaimana membuat rumah; dan bagaimana mendapatkan pasangan. Lebih spesifik lagi pada Bab 4, James menyertakan contoh-contoh praktis seperti: jika kita ingin melakukan sesuatu, kita bisa mengingatkan diri kita dengan mengumumkan dan membuat petunjuk semisal “aku besok akan lari pagi”. Jadikan kalimat tersebut sebagai tulisan atau ucapkan kalimat tersebut secara langsung secara berulang. Hal ini akan memunculkan stimulus dalam otak agar kita benar-benar melakukannya. Atau bisa juga dengan mempersiapkan sepatu, baju, dan celana lari di tempat yang mudah kita akses atau lihat agar kita termotivasi untuk lari keesokan harinya.
2. Menumbuhkan gairah (craving)
Hampir semua yang kita lakukan dalam hidup kita didasari pada keinginan untuk memenuhi gairah atau nafsu kita. Keinginan menikah, makan, minum, kerja, dan berbagai macam hal digerakkan oleh nafsu. Makna nafsu di sini adalah gairah untuk memenuhi keinginan dan pemenuhan kehendak kebutuhan pokok hidup. Seperti contoh: James menjelaskan bahwa sebenarnya kita merokok itu bukan karena kita ingin rokok tersebut, melainkan ada rasa kepuasan yang ingin terpenuhi; kita tidak menginginkan aksi menggosok gigi, melainkan kita menginginkan rasa lega setelahnya. Untuk menstimulasi gairah diri agar bisa membentuk kebiasaan baik, James menyebutkan kunci kedua, yaitu membuat kebiasaan yang kita lakukan menjadi menarik pada dasarnya, manusia menyukai hal-hal yang menarik.
3. Menanggapi (response)
Apa yang kita pikirkan, apa yang kita rencanakan, tidak akan menghasilkan apa-apa jika tidak dibarengi dengan aksi. Aksi inilah yang dimaksud James sebagai tanggapan atau respon dalam buku Atomic Habits. Tanggapan atau respon dibagi menjadi dua yaitu in motion dan action. In motion berarti orang yang merencanakan atau mempersiapkan sebaik mungkin ketika akan melakukan sesuatu, seperti orang yang mempersiapkan lari pagi di esok hari sedemikian baik dan lengkap; dan orang yang mempersiapkan karir, tenda, kompor dan lainnya ketika akan mendaki. Sementara itu, action berarti melakukan sesuatu terlepas dari siap dan tidak siap. Terlepas dari semua itu, kuncinya adalah dengan menjadikan sesuatu kebiasaan mudah dilakukan.
4. Menikmati hasil (reward)
Setelah melakukan tiga langkah sebelumnya, kita bisa memberikan diri kita hadiah atau reward sebagai penghargaan diri atas apa yang telah kita lakukan. Hal ini dapat memotivasi diri kita untuk mengulang kebiasaan tersebut dan memberikan kepuasan karena kita berhasil melakukan kebiasaan tersebut.
Kelebihan-kelebihan buku Atomic Habits ini diantaranya adalah ditulis menggunakan gaya bahasa yang menarik dan mudah dipahami sehingga 300 halaman terasa nikmat untuk dibaca; cerita yang disajikan dalam buku ini tidak membosankan karena didukung oleh pemaparan pengalaman nyata yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari; dan memiliki isi yang berbobot karena buku ini juga menyertakan riset ilmiah terkait dengan pengalaman kehidupan sehari-hari.
Kelebihan-kelebihan buku Atomic Habits tersebut telah membuat buku ini diminati pembaca di Indonesia hingga terjual sebanyak 100.000 eksemplar. Yang lebih menarik lagi, dalam buku ini penulis menyertakan referensi buku bacaan dan situs-situs yang dapat diakses para pembaca untuk menambah pengetahuan seputar lanjutan tentang pembentukan kebiasaan yang lebih luas.
Disamping kelebihan-kelebihan yang ada, sayangnya penjelasan dalam buku ini terlalu bertele-tele meskipun penulis bertujuan untuk memberi pemahaman lebih kepada pembaca. Dan juga, susunan bahasa dalam buku ini yang terkadang rancu sehingga membuat pemahaman pembaca terganggu karena buku ini adalah buku terjemahan.
Terlepas dari beberapa kekurangan kecil tersebut, buku Atomic Habit ini sangat layak untuk menjadi buku bacaan teman-teman yang ingin mengembangkan diri terutama dalam hal membentuk kebiasaan baik dan melepas kebiasaan buruk. Semoga teman-teman semua mendapatkan perubahan kecil dengan hasil memuaskan seperti kata James, “Tiny Changes, Remarkable Results”.
Penulis : Sinta Anggraeni
Editor : Adi Suwarno
