
Hai, Piders! Pernah gak, sih, kalian merasa sedih karena kecewa terhadap sesuatu? Hal seperti ini memang tidak bisa dipungkiri lagi, tetapi seringkali kekecewaan hadir tanpa diundang dan terkadang ia datang karena ketidaksengajaan. Kecewa yang datang kian membuat hati tidak tenang dan perasaan marah kerap muncul secara alami. Sebagian ada yang meluapkan rasa amarahnya dan sebagian lain ada yang menyimpan dan memendamnya.
Dalam hidup, mustahil sekali jika kita tidak melakukan suatu kesalahan yang mengakibatkan kekecewaan, entah orang lain berbuat salah kepada kita, juga sebaliknya. Namun, kekecewaan hadir bukan hanya karena kesalahan seseorang terhadap kita, melainkan juga karena keadaan yang tak sesuai dengan keinginan yang seringkali membuat manusia kecewa hanya karena ekspetasi semata.
Bahkan untuk mengetahui jalan yang benar, kita harus menelusuri jalan yang salah. Satu hal paling penting yang harus kita tanamkan dalam diri jika rasa kecewa datang adalah memaafkan. Rasa amarah memang sangatlah manusiawi, tetapi jika itu dipelihara dan membekas di hati, dapat mengakibatkan banyak kekecewaan hingga tumbuh dengki dan dendam yang tak usai.
Dalam Islam, perilaku saling memaafkan adalah suatu kewajiban, sebab dengan memberi maaf itu akan terjalin tali silaturahmi antar sesama. Karena setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan dan saling memaafkan adalah kunci dari kesejahteraan hati. Hati yang memaafkan dengan yang tidak akan memberi dampak yang berbeda pada kesehatan fisik dan mental kita; hati yang memaafkan berdampak pada kemampuan diri kita untuk kembali menjalani hidup dengan lebih tenang dibandingkan dengan hatj yang tidak memaafkan yang dapat mempengaruhi gangguan kesehatan, karena hari-hari diri kita dihantui dengan rasa kesal, marah, kecewa, sedih, dan stres pikiran yang lambat laun akan menyebabkan perubahan pada fisik.
Memaafkan adalah suatu komitmen untuk proses perubahan yang dipersonalisasi. Untuk beralih dari rasa sakit dan kecewa ke sikap memaafkan, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan, di antaranya :
-
Kenali nilai-nilai memaafkan dan bagaimana hal tersebut dapat meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik.
-
Identifikasi apa yang perlu disembuhkan dan siapa yang perlu dimaafkan.
-
Ungkap diri tentang luka yang dialami bagaimana itu sangat memengaruhi perilaku.
-
Berusaha untuk melepaskan.
-
Keluar dari pikiran kalau diri kita adalah korban.
Menurut jurnal Annals of Behavioral Medicine, memaafkan mampu menurunkan stres secara perlahan, mengurangi perasaan negatif, dan membantu kita untuk bisa mengidentifikasi makna dan tujuan hidup. Islam juga mengajarkan kita untuk selalu memafkan orang lain, karena Allah SWT sangat memuliakan orang yang memaafkan kesalahan orang lain. Kalaupun kita dalam keadaan yang sangat sulit untuk memaafkan, cobalah mengingat bahwa Allah saja Maha Pengampun terhadap hamba-Nya, lalu mengapa kita sebagai hamba begitu sulit untuk memaafkan sesamanya? Dalam hadis Rasulullah SAW disebutkan, “Tidaklah seseorang memaafkan kecuali Allah akan menambah kemuliannya” (HR Muslim).

Namun, mengapa seringkali sulit bagi kita untuk memaafkan segala kekecewaan? Rasa marah, kecewa, dan sedih karena keadaan yang sebenarnya kita sendiri tidak ingin itu terjadi. Lalu rasa trauma yang sulit hilang karena kekecewaan yang begitu mendalam bisa menjadi faktor bagi sebagian orang untuk segera memaafkan apa yang telah terjadi. Mungkin memang bukan keinginan kita untuk memendam rasa jengkel itu, tetapi percayalah semua hanya butuh waktu untuk kita belajar menerima segala sesuatu untuk kembali berdamai dengan diri dan keadaan.
Penulis: Sagita Nur Bachri
