Tentang sosok-sosok heroik berkedok manusia yang memilih untuk tidak mencolok.
Hiruk pikuk dunia sekitar menyambangi terlalu banyak hal yang menarik perhatian kita untuk menyelam ke sana-ke mari. Barang kali, sampai luput untuk peduli di sekitar; memilih untuk tidak mau kehilangan detail-detail lain di luar kesukaan atau memang belum dijentik kesadarannya.
Di luar lensa-lensa fokus yang sibuk berkelana sana-sini mendamba hal fana, ada para pekerja penuh kasih dalam naung rumah-rumah apik yang menjadi tempat berlabuh dan berteduh bagi para tua
yang mengharapkan suasana baru. Cita-cita kecil yang dibawa kedatangan setiap sosok baru di usia senja menjadi penggubah mereka untuk meneruskan tapak juang. Bicara mereka tidak banyak suara, tidak lantang solusi letih dan lelah, memilih menyuburkan atap menenangkan bagi mereka yang mencari.

Tentunya, tidak mudah menjadi pengurus panti jompo. Tidak perlu bicara gengsi dan gaji besar di sini, karena meski hal itu lumrah diimpikan, keduanya menjadi pijar yang tidak lagi berarti. Tidak heran, para pekerja panti kerap identik sebagai pribadi yang sabar, penyayang, pengertian, dan tak berharap pamrih.
Boleh jadi, sebagian mengamini dengan pernyataan tersebut, sebagian lagi menyanggah. Tapi, mari kita tengok sedikit lembar-lembar kehidupan mereka.
Salah satu surat kabar online terkemuka, The Guardian, mengumpulkan kisah-kisah di balik tegaknya dinding-dinding kekeluargaan panti jompo. Ann Neumann mengemukakan perbincangannya dengan para pekerja panti jompo dari lintas negara di masa pandemi COVID 19.
Salah satu dari mereka adalah Mary Walker dari Colorado, telah mencapai usia paruh baya, bercerai, dan tidak memiliki anak, menemukan romansa manis yang tidak terduga akan ditemuinya dalam rutinitas merawat panti: yaitu seorang penghuni favorit yang sering menanyakan kabar dan meminta kehadirannya agar selalu berada di sisinya.

Pengalaman lainnya dituturkan oleh pekerja dari Washington, Shelly Hughes. Gajinya tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup, terus bekerja dengan referensi dari beberapa rekan sejawatnya; menyerah dengan keadaan yang tidak ideal bagi keberlangsungan nafkah. Salah satu rekan yang telah bekerja dalam waktu yang lama meletakkan kunci dan lencana ke atas meja bosnya dan berkata: Selesai . Shelly dan kawan-kawan lainnya bertahan dengan perlindungan kemampuan yang dimilikinya. Seringkali, mereka tidak sempat mandi kecuali sepulang dari kerja.
Mengurus para lansia adalah kerja berlandas ketulusan. Para ‘penata kehidupan’ di panti jompo yang tersebar di berbagai tempat terbagi ke dalam beberapa rutinitas harian; ada yang mencucikan pakaian kotor, memasakkan makanan, dsb. Selain terjun mengurus para tua, beberapa dari mereka juga menjadi pengelola keuangan dan jajaran badan pengurus harian lainnya. Sebagai permisalan: melansir dari website kapilerindonesia.com, Panti Jompo Fakku Raqabah di Rancabolang, memiliki 6 orang pengurus dengan struktur yang jelas; ketua, sekretaris, bendahara, 2 orang komisi bidang, dan 1 orang pengasuh.

Mengutip dari ekorantt.com, Tersiana Mala Dara (54), adalah salah satu pengurus panti nun jauh di NTT yang telah mengabdi selama 27 tahun anggota samai para penghuninya. Beliau berkisah tentang rasa harunya ketika para lansia mengadakan novena khusus untuk kesembuhan para pekerja di panti yang sedang sakit. Di sisi lain, ia mengklaim bahwa tanggung jawab yang ditanggung memang tidak hanya membalik telapak tangan; semua harus berjalan perlahan dan penuh kebahan diiringi doa.
Penulis: Chavia Dewi

