Piders, tau nggak sih, apa itu overshare? Dikutip dari laman illinoisworknet.com, artikel yang berjudul Oversharing and Social Media mengartikan bahwa overshare adalah ketika orang-orang yang terlalu banyak membagikan informasi pribadi kepada publik atau orang asing. Itu bisa terjadi secara online maupun offline.
Baru-baru ini, dunia maya seolah menjadi candu baru bagi para penikmatnya. Rumah kedua bagi manusia modern ini menjadi popularitas utama. Share sana-sini, berbagi link, gambar, cerita, audio, bahkan video kini sangat mudah dilakukan hanya bermodalkan gadget saja.
Postingan demi postingan di-upload-nya ke media sosial pribadi demi kepentingan manusianya itu sendiri. Berbagai likers, beragam jumlah followers dan pedas manisnya para komentator memenuhi tanyangan story atau postingan beranda. Namun sayangnya, candu dunia maya itu juga bisa berdampak buruk bagi dunia nyata.
Dalam buku yang berjudul Generasi Merunduk karya Fahyo Bagus P. (dkk), dijelaskan bahwa dengan media juga mampu membentuk dan memvisualisasikan realitas dunia cepat dan serempak meskipun penuh dengan memanipulasi data-data, bahkan media mampu membentuk sesuatu yang tidak masuk akal menjadi masuk akal sebagai realitas.
Ini bisa menjadi salah satu dampak yang ditakutkan dari overshare, di mana data-data atau informasi pribadi kita bisa disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Meskipun hanya bermodal selfie atau foto diri yang di-upload melalui media sosial pribadi, tetapi canggihnya teknologi saat ini mampu mengotak-atik secuil informasi yang bisa diubah menjadi informasi baru.
Terkadang, memang masyarakat membutuhkan ruang-ruang virtual untuk mencapai keinginan dan mengekspresikan dunianya, untuk sekadar memposting foto atau video, status liburan atau kegiatan tertentu yang dimaksud untuk pribadi. Namun, sama saja jika dilakukan secara berlebihan akan mengakibatkan dampak tersendiri bagi para pengguna media sosial.
Beberapa contoh perilaku yang terbilang overshare di antaranya adalah memposting detail intim hubungan pertemanan, pasangan, masalah keluarga, atau drama pribadi kita, kemudian mengunggah foto atau video memalukan tentang diri sendiri atau orang lain, share kegiatan ke manapun kita pergi, mengunggah tentang apapun yang kita lakukan pada saat tertentu beberapa kali sehari, serta berbagi terlalu banyak info dan foto anak, adik, atau saudara kita, dan masih banyak lagi. Semua itu dilakukan dengan maksud melampiaskan frustasi atau emosi kita, atau bahkan hanya sekadar mencari perhatian untuk sebuah ketenaran dengan bentuk suka, komentar, dan followers.
Seperti yang diceritakan dalam buku Fake It – Your Online Identity Is Worth Gold Guide to Digital Seldefense karya Pernille Tranberg dan Steffan Heuer yang menyebutkan bahwa privasi itu seperti teka-teki; “Saya ada di Facebook, tetapi saya tidak membagikan apapun yang bersifat pribadi”, kita sering mendengar dari orang-orang yang mengetahui reputasi online mereka dan yakin bahwa mereka melakukan tindakan pencegahan. Yang tidak mereka ketahui adalah apa yang “suka”, pembaruan status, penelususran, gambar, video atau bahkan status lokasi sederhana yang dapat digunakan hari ini, apalagi dalam dua atau sepuluh tahun dari sekarang jika itu semua mendarat di tangan yang salah.
Oleh karena itu, Piders, kita juga harus bisa memposisikan diri dengan baik ketika menggunakan media sosial. Gunakan media sosial seefisien mungkin, cukup memposting apa yang sewajarnya disebarluaskan ke khalayak ramai, dan simpan apa yang terlalu menyangkut pribadi. Sesekali memposting kegiatan pribadi tidak masalah jika itu tidak berlebihan, sebab oversharing itu bisa menyebabkan dampak buruk bagi diri kita.
Penulis : Rina A.Z.
Editor : Fathimah Azzahra
