0 0
Read Time:2 Minute, 53 Second

 

Apa yang Piders bayangkan ketika mendengar kata tumpeng? Bentuknya yang lancip? Warnanya yang kuning? Atau lauknya yang menggoyang lidah? Nah, bagaimana jika ditambah kata Yogyakarta setelah kata tumpeng tadi? Langsung terbayang kota istimewa ini kan? Penasaran tumpeng khas Yogyakarta seperti apa? Yuk simak bersama!

Beberapa waktu lalu, Museum Sonobudoyo mengadakan pameran temporer AMEX (Annual Museum Exhibition) dengan tema “Upaboga: Ketika Makanan Bercerita”. Pameran ini menyajikan replika-replika makanan bersejarah Yogyakarta yang jarang diketahui oleh masyarakat. Pengadaan pameran ini ditujukan agar masyarakat luas mengenal lebih jauh tentang sejarah makanan khas Yogyakarta.  Salah satu makanan yang dipamerkan adalah tumpeng. 

Tumpeng merupakan akronim dari “Tumpaking Panguripan-Tumindak Lempeng-Tumuju Pangeran” (tertatanya hidup berjalan lurus kepada Tuhan). Bentuk kerucut pada tumpeng merupakan sebuah miniatur gunung yang dalam mitologi Hindu melambangkan tempat persemayaman para dewa dan makhluk kedewaan. Berikut adalah 5 jenis tumpeng unik khas Yogyakarta yang ada di Museum Sonobudyo :

  • Tumpeng Kapurant0

Tumpeng Kapuranto memiliki keunikan warna tumpeng yang kebanyakan berwarna putih atau kuning. Tumpeng ini dibuat dari nasi berwarna biru blawu yang dihasilkan dari bunga telang. Tumpeng ini disajikan dengan beberapa sayur dan lauk yaitu, sambal goreng, daging, urap, bakmi, capcay, telur, semur daging, perkedel, acar, dan kerupuk. Tumpeng Kapuranto merupakan simbol permohonan maaf atas segala kesalahan yang pernah dilakukan.

 

  • Tumpeng Pungkur

Tumpeng Pungkur berupa nasi putih berbentuk kerucut yang dipotong vertikal dan diletakkan saling membelakangi (mungkur). Tumpeng ini disajikan dengan tujuh macam lauk yang diletakkan masing-masing dalam sebuah takir. Sayur dan lauk tersebut antara lain kangkung, kacang panjang, bayam, kubis, taoge, buncis, telur ayam rebus, dan urap. Tumpeng Pungkur disertakan di dalam upacara  Sur Lemah setelah jenazah dikubur. Tumpeng ini melambangkan perpisahan antara almarhum/almarhumah dengan mereka yang masih hidup, ditunjukkan dengan posisi nasi yang saling membelakangi. Upacara Sur Lemah bertujuan agar arwah almarhum/almarhumah memperoleh jalan yang terang dan tempat yang layak.

 

  • Tumpeng Kendhit

Tumpeng Kendhit dibuat dari nasi putih yang ditengah badan tumpeng, pada sisi sebelah luar, diberi warna kuning yang berasal dari parutan kunyit. Tumpeng ini dikelilingi berbagai sayur atau lauk, yaitu sambal goreng daging giling, capcay, acar, semur daging, terik daging, telur ceplok, perkedel, kerupuk udang, dan rempeyek kacang. Warna kuning pada tumpeng melambangkan berbagai kesulitan atau masalah dalam hidup. Sedangkan sayur dan lauk disekitarnya melambangkan pemecahan masalahnya. Tumpeng ini merupakan simbol dari permohonan untuk keluar dari berbagai kesulitan hidup. 

 

  • Tumpeng Gundhul

Tumpeng Gundhul berbentuk kerucut dan polos, tidak dihiasi aneka ragam sayur dan lauk, tetapi dikelilingi oleh tujuh jenis jenang yang dibungkus dalam cakenthong. Tujuh cakenthong tersebut berisi jenang putih, jenang merah, jenang putih palang jenang merah (abang), jenang putih diselingi sedikit jenang merah,  jenang baro-baro (jenang putih diberi parutan kelapa dan irisan gula), jenang merah palang jenang putih, dan setengah jenang abang setengah jenang putih. Tumpeng ini melambangkan kelahiran bayi yang lahir ke dunia dalam keadaan polos, bersih, dan suci lahir batin. Tujuh jenang melambangkan bayi yang selalu diiringi tujuh saudaranya yang berasal dari darahnya, kotorannya, arwahnya, kawahnya, ari-ari, dan yang lainnya. 

  • Tumpeng Duplak

Tumpeng Duplak berbentuk oval dan tidak runcing pada ujung tumpeng. Tumpeng ini berisi sayur dan lauk, di antaranya sambal goreng daging giling, capcai, acar mentimun, terik daging sapi atau semur daging, telur pindang, telur mata sapi, perkedel, dan kerupuk udang atau rempeyek kacang. Tumpeng ini disajikan agar semua permohonan dikabulkan.

Tumpeng-tumpeng unik tersebut melambangkan filosofi kehidupan yang berbeda-beda. Tumpeng termasuk makanan kebudayaan Jawa yang patut untuk dilestarikan keberadaannya. (Sumber foto: dokumentasi pribadi).

 

Penulis: Sinta Anggraeni

Editor: Adi Suwarno

 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By PPI TV

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *