Setelah kemarin ada istilah generasi Millenial dan generasi Z, baru-baru ini muncul lagi istilah yang seringkali disebut sebagai strawberry generation. Kira-kira Piders udah pada tahu belum, nih?
Strawberry generation atau generasi stroberi adalah generasi yang penuh dengan gagasan kreatif tetapi mudah menyerah dan rapuh. Dikutip dari buku yang berjudul Strawberry Generation, Mengubah Generasi Rapuh Menjadi Generasi Tangguh karya Rhenald Kasali yang menyebutkan bahwa istilah strawberry generation ini awalnya muncul dari negara Taiwan, istilah tersebut ditujukan untuk beberapa generasi baru yang bersifat lembut seperti stoberi.
Terus kenapa dinamai stoberi, ya? Karena oh karena, generasi ini perumpamaannya seperti buah stoberi yang sedari luar kelihatannya cantik, manis dan lembut, namun kenyataannya gampang “benyek” alias rapuh dan gampang hancur kalau ditekan atau diinjak.
Perumpamaan dan istilah generasi stroberi ini digunakan generasi senior untuk menggambarkan generasi muda yang mudah terluka seperti buah stroberi. Menurut pandangan sebagian orang, generasi ini merupakan hasil dari perbedaan lingkungan saat seseorang dibesarkan.
Seperti halnya generasi senior atau terdahulu misalnya, mereka hidup di zaman yang mana lebih sering terekspos dengan lingkungan yang menuntut kerja keras di masa mudanya. Sedangkan kita saat ini berada di zaman yang berbeda, di mana generasi baru yang lahir sudah dimudahkan dengan berbagai teknologi inovasi dan sarana lainnya yang membuat mereka tidak perlu susah payah untuk menikmati masa muda. Nah, dari sanalah karakter yang dihasilkan tentu akan berbeda, maka wajar saja jika generasi stroberi ini mudah sekali rapuh. Terus apa aja, sih, faktor yang bisa ngebentuk kita jadi generasi stroberi?
Pertama, ekspektasi semakin meninggi. Ini karena rata-rata anak muda zaman sekarang bisa saja sudah sukses di usia 20-an. Hal ini membuat pressure buat anak muda lainnya yang menuntut mereka untuk buru-buru sukses atau cepat punya penghasilan banyak. Padahal modalnya saja sudah beda, ada yang punya privilege dan ada juga yang tidak, bukan?
Kedua, too much information di media sosial. Saking banyaknya penggunaan media sosial, tentu informasi yang didapat akan sulit diminimalisir. Maka nggak heran kalau anxious, insecurity, dan juga FoMo (Fear of Missing out) jadi penyakit anak muda zaman sekarang.
Ketiga, terlalu dimanjakan dengan sesuatu yang instan. Teknologi yang semakin berkembang justru membuat segala sesuatu semakin luas dan cepat. Hal ini tentu membuat generasi muda termakan dengan hal-hal yang instan.
Tapi Piders, dibalik kesannya yang “lemah”, ternyata generasi ini juga nggak lepas dari kepeduliannya akan kesehatan mental yang semakin hari semakin tinggi. Berarti challenge generasi stroberi itu kesehatan mental, dong? Ya, nggak gitu juga, sih. Justru nggak bisa dipungkiri kalau perkembangan zaman yang ngebentuk diri kita jadi seperti sekarang ini, dan bagus bukan kalau kita juga perlu peduli sama kesehatan mental?
Jadi, Piders, tiap generasi itu pasti punya karakteristiknya masing-masing. Dan pastinya itu semua sesuai dengan perkembangan zaman yang ada, baik itu kultur dan orang-orang yang ada saat itu. Kalaupun kita termasuk kategori generasi stroberi yang banyak kekurangan, tapi kita tetap bisa belajar dari generasi sebelumnya dan nggak perlu khawatir dengan sebutan “rapuh atau lemah”, karena setiap orang itu pasti ada masanya dan setiap masa tentu ada orangnya.
Penulis : Rina A. Z.
Editor : Fathimah Azzahra
