Piders, pernahkah kalian mencoba bercerita atau berbicara pada hewan? Mungkin kita pernah melakukannya, apalagi jika memiliki hewan peliharaan. Namun, pernahkah menganggap hal ini kegiatan yang aneh?
Perilaku berbicara dengan hewan disebut antropomorfisme. Antropomorfisme sering terjadi pada anak-anak dengan imajinasinya atau pada orang yang memiliki hewan peliharaan.
Menurut profesor ilmu perilaku Universitas Chicago, Nicholas Epley, proses mengenali pikiran manusia lain melibatkan proses psikologis yang sama dengan proses mengenali pikiran makhluk lain seperti hewan. Selain itu, hal ini juga mengasah kepekaan dan empati.
Dalam penelitian pada tahun 2008 yang diterbitkan Northwestern University, para peneliti menguji dua motivasi mengapa kita kerap menaruh kemampuan seperti berpikir dan merasakan kepada entitas non-manusia atau antropomorf.
Pertama, karena kurangnya interaksi sosial. Bahwa seseorang yang kurang interaksi sosial perlu “menciptakan” manusia untuk bergaul. Kedua, bahwa seseorang yang tidak memiliki kendali ingin merasa lebih aman dalam keadaan yang tidak pasti, dan antropomorfisasi memungkinkannya untuk memprediksi tindakan hewan berdasarkan pengalaman interpersonal.
Peserta penelitian yang kesepian kronis jauh lebih mungkin untuk menggambarkan hewan peliharaan mereka dengan kata-kata yang menunjukkan bahwa hewan peliharaan tersebut memberikan dukungan emosional seperti bijaksana, perhatian, dan simpatik.
Ada juga peserta penelitian yang tidak percaya manusia bisa berbicara dengan hewan. Hal ini bisa jadi karena mereka menganggap perilaku seperti itu ialah hal konyol atau kekanak-kanakan. Padahal antropomorfisme merupakan salah satu kecenderungan alami manusia yang membuatnya menjadi makhluk yang cerdas. Ini dikarenakan manusia memiliki kemampuan mengkarakteristikkan objek sebagai manusia lain.
Jadi, apakah Piders melakukan antropomorfisme? Tampaknya ini bisa menjadi solusi ketika tak ada teman yang bisa untuk mendengarkan keluh kesah kita.
Penulis : Muhammad Irfan Habibi
Editor : Fathimah Azzahra
