
Ketua Badan Pengawas Kegiatan dan Keuangan Perhimpunan Pelajar Indonesia di Jerman (BPKK PPI Jerman) periode 2019-2020, Narendra Ning Ampeldenta (Rake) kali ini memberi pesan kepada generasi muda Indonesia untuk berpikir lebih bijaksana ketika ingin menempuh pendidikan di Luar Negeri. Nah, apa saja sih mindset yang perlu kamu ubah sebelum menempuh studi di Luar Negeri khususnya Jerman?
Yuk, langsung simak hasil interview Iffah Zehra, Desainer, Editor & Koordinator Website PPI TV dengan Kak Rake!
Pertama: Kuliah di Jerman bukan perjalanan liburan buat kamu yang doyan ngehits di sosial media

Kuliah di Jerman memang punya daya tarik tersendiri bagi anak Indonesia yang ingin menempuh pendidikan tinggi. Kamu yang hanya doyan foto demi menyelamatkan feed instagram kamu, dapat dipastikan Jerman bukanlah tempat yang cocok buat kamu studi. Menjadi anak rantau di Jerman tidaklah mudah karena banyaknya tantangan yang harus dihadapi, seperti adaptasi budaya yang begitu jauh dengan Indonesia, bekerja paruh waktu, membagi waktu kuliah dan bekerja dan masih banyak lagi. Ya, kerinduan dengan keluarga di Indonesia juga sering terngiang.
Kedua: Belajar Sistem Kebut Semalam alias SKS gak berlaku di Jerman!

Lama waktu perkuliahan di Jerman relatif cepat, sekitar 3,5 bulan hingga 4 bulan dalam satu semester, tergantung setiap Universitas. Apalagi, kuliah di Jerman gak pakai sistem absensi seperti di Indonesia. Inilah yang kadang jadi penghambat pelajar asal Indonesia. Cepatnya waktu kuliah dalam waktu semester tersebut, kadang gak terasa kalau sudah masuk ujian akhir semester. Yapp, belajar dengan pola SKS berpotensi besar memberatkan kamu kuliah di Jerman. Jadi, pandai-pandailah mengatur waktumu.
Ketiga: Gak perlu minder sama orang Jerman

Gak semua kok pelajar asal Jerman itu pintar. Justru kemampuan matematika pelajar asal Indonesia terkadang lebih baik. Rake sendiri pernah mengalaminya saat semester satu, perkuliahan matematika. Pelajar asal Indonesia memang sudah akrab dengan soal-soal matematika dari persiapan Ujian Nasional dan juga contoh soal SNMPTN yang sulit. Menurut Rake, tak bisa dipungkiri kalau daya analisis orang Jerman memang sangat bagus. Mungkin pada awalnya, mereka gak ngerti dalam satu materi, tapi karena kemampuan analisis dan insting dalam membaca soal sangat baik, mereka cenderung lebih cepat paham dengan soal-soal baru. Kuncinya, perbanyaklah latihan!
Keempat: No worries! Kualitas pelajar Indonesia di Jerman jauh lebih baik

Dengan fasilitas penunjang studi yang baik dan up-to-date dengan perkembangan teknologi terbaru. Memang sungguh membuka kesempatan pelajar asal Indonesia bisa berkontribusi di kancah global. Namun, ternyata hal itu gak menjamin. Hal ini dibuktikan saat Rake berkunjung ke beberapa BEM Universitas di Indonesia pada tahun 2018 untuk berdiskusi dan bertukar pikiran. Di sana, Rake berdiskusi mengenai hal-hal progresif seperti, pengentasan masalah Sungai Citarum, masalah HAM dan pergerakan mahasiswa Indonesia di Luar Negeri dan di Tanah Air untuk saling berkontribusi membangun Indonesia di masa depan.
Dari sinilah, Rake mengambil keputusan bahwa lingkungan dan sparing disertai kompetitor kita sangat mempengaruhi kepribadian kita. Jika seseorang berada dalam lingkungan yang progresif, disiplin, dan tekun. Maka, seseorang mau tidak mau pasti akan terbawa juga. Jadi, buat kamu yang mungkin memang belum mendapatkan kesempatan kuliah di Luar Negeri. Jalinlah hubungan baik dengan banyak orang, siapa tahu kesempatan studi di Luar Negeri menghampirimu. Yapp, jangan pernah padamkan mimpimu!
Kelima: Cuek, acuh, dan gak peduli terhadap Tanah Air

Menurut Rake, nggak sedikit teman-temannya yang berkuliah di Jerman enggan untuk pulang ke Tanah Air setelah lulus dari universitas. Padahal, Indonesia sangat membutuhkan para anak muda yang telah menempuh studi di Jerman untuk berkontribusi. Mengingat, masih banyak problem di Indonesia ketimpangan.
Jadi, bagi kalian yang sudah lulus dari Jerman ataupun yang mau kuliah di Jerman. Ingat, seraplah ilmu sebanyak-banyaknya di Jerman. Pulang dan bantulah bangun Indonesia sesuai bidang dan keterampilanmu. Kalau bukan kita, siapa lagi?
________
Narasumber: Narendra Ning Ampeldenta, Ketua BPKK PPI Jerman 2019-2020
*Tulisan yang disampaikan adalah hak cipta PPI Jerman & Redaksi PPI TV. Anda dilarang copy/paste tulisan yang ada di situs resmi PPI TV tanpa adanya izin.

Maju terus, PPI TV. Websitenya menarik dan keren.
Halo, Ilham! Terima kasih 🙂
Thank a ton for giving me great information about Germany. Hopefully, I could pursue my Master degree in this country the soonest possible because learning in Germany is my biggest dream to enrich my insight about research and development.
Untuk kakak2 yang sedang menempuh studi di Jerman, semoga selalu dimudahkan dan dilancarkan yang pada akhirnya bisa berkontribusi langsung untuk Indonesia karena Indonesia membutuhkanmu ^_^
Halo, Sams! 🙂 Aamiin. Terima kasih ya.