
Bulan Oktober, biasanya kita rayakan sebagai Bulan Bahasa. Bicara tentang sejarah bahasa Indonesia, pasti Piders ingat bahwa bahasa kita bermula dari hasil Kongres Pemuda II yang kita kenal dengan Sumpah Pemuda. Tentu sudah biasa membahas bagaimana semangat pemuda dalam kongres tersebut. Jadi, kali ini Piders akan diajak untuk mengetahui dari mana asal bahasa Indonesia itu, dan siapa sih perumus tata bahasa yang menjadi cikal bakal bahasa Indonesia?
Membahas asal-usul bahasa Indonesia, kita tidak bisa lepas dari bahasa Melayu sebagai cikal bakal bahasa Indonesia, walaupun ada juga pengaruh dari bahasa daerah lain dan bahasa asing. Dalam sejarah, penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa yang digunakan antarbangsa terjadi sejak masa Riau-Johor dalam perdagangan di wilayah Kepulauan Riau.
Francois Valentjin, pendeta dan pakar sejarah berkebangsaan Belanda, mengatakan bahwa pada abad ke-18 bahasa Melayu di bawah Kesultanan Riau-Johor mengalami kemajuan pesat dan menyamai bahasa-bahasa Eropa. Bahkan ia mengungkapkan bahasa Melayu juga digunakan hingga Kepulauan Filipina.
Ketika Kesultanan Riau-Johor pecah, wilayah di bawah pengaruh Belanda didirikan Kesultanan Riau-Lingga yang meliputi Lingga, Batam, Bintan, dan pulau-pulau di sekitarnya. Pada masa inilah hadir seorang tokoh yang memiliki andil dalam bahasa Melayu yang menjadi cikal bakal bahasa Indonesia. Ia menjadi pencatat pertama dasar-dasar tata bahasa Melayu melalui buku Bustan Al-Katibin yang menjadi standar bahasa Melayu. Selain membuat buku Bustan Al-Katibin, ia juga menulis buku Kitab Pengetahuan Bahasa yang ditulis pada tahun 1851 dan dicetak pada tahun 1929. Buku ini merupakan sebuah kamus monolingual Melayu pertama.
Tokoh tersebut adalah Raja Ali Haji yang dinobatkan sebagai pahlawan nasional pada 2004 karena jasanya dalam bidang kebahasaan. Ia pun dijuluki sebagai Bapak Bahasa Indonesia. Standar bahasa yang dibuat oleh Raja Ali Haji ini pula yang disepakati pada Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928.
Raja Ali Haji lahir di lingkungan Kerajaan Riau-Lingga yang berpusat di Pulau Penyengat. Ayahnya merupakan Raja Ahmad bin Raja Haji Fisabilillah yang menghargai pendidikan. Raja Ali Haji pun mendapatkan ilmu kebahasaan ketika mengikuti ayahnya ke Batavia pada 1822 serta mempelajari bahasa Arab dan ilmu agama di Mekah ketika ia berhaji pada 1828.
Buku yang ia tulis terkait tata bahasa Melayu merujuk pada kaidah bahasa Arab. Ini disebabkan kala itu bahasa Arab dianggap sangat berwibawa dan identik dengan Islam, sehingga sesuai dengan lingkungan Kesultanan Riau-Lingga yang bercorak agama Islam.
Berawal dari publikasi yang dilakukan oleh Eliza Netscher, orang Belanda yang fasih berbahasa Melayu dan tertarik pada sejarah dan budaya Melayu. Netscher menerjemahkan salah satu karya Raja Ali Haji, “Gurindam Dua Belas” ke dalam bahasa Belanda. Kecerdasan Raja Ali Haji dalam kebahasaan dan kesastraan menarik Belanda untuk bekerja sama dalam bidang bahasa. Sebab bahasa Melayu kala itu telah menjadi bahasa pengantar perdagangan di seluruh wilayah Hindia Belanda, tetapi belum ada tata bahasa yang mengaturnya. Kala itu Belanda tengah gencar-gencarnya menyusun kamus bahasa Melayu-Belanda dan Belanda-Melayu.
Hal tersebut mendorong Belanda mengirim intelektualnya untuk mencari naskah-naskah di Kesultanan Riau-Lingga. Salah satu ahli bahasa Melayu berkebangsaan Belanda yang ditugaskan adalah Hermann Von de Wall. Ia pun berkenalan dengan Raja Ali Haji untuk kepentingan tersebut. Selain itu, Majelis Injil Belanda juga mengirim H.C. Klinkert untuk mempelajari bahasa di Kesultanan Riau-Lingga untuk memperbaiki terjemahan Injil ke dalam bahasa Melayu.
Penulis : Muhammad Irfan Habibi
Editor : Fathimah Azzahra
