0 0
Read Time:3 Minute, 11 Second

“Menjadi anak muda berarti menjadi manusia yang harus siap dengan segala tuntutannya.” –Anonim

 

Well, setidaknya kalimat di atas adalah kalimat yang paling cocok untuk menggambarkan kondisi anak muda di jaman sekarang. Sepintas, kehidupan anak muda memang terlihat sangat menyenangkan. Terlebih, masa muda identik dengan masa untuk bersenang-senang, menghabiskan waktu bersama teman, mencari jati diri, hingga mulai mengenal yang namanya jatuh hati. Seru!

Namun, di balik itu, anak muda sekarang juga dihadapkan pada sebuah sisi di mana mereka akan dituntut untuk bisa segalanya. Piders pasti pernah merasa, “Hmm, si A juara 1 lomba esai nasional”, atau “Eh, si B kemarin ikut program student exchange ke Amerika, ya”, atau “What?! Perasaan waktu masih sekelas sama si C dia biasa aja deh, sekarang kok udah jadi pemateri di webinar nasional aja”. Piders yang sedang nge-scroll media sosial tiba-tiba merasa kesal, tertinggal, dan khawatir bahwa kamu nggak produktif dan masih di situ-situ aja. Tanpa sadar Piders mulai menghakimi dan menyalahkan diri sendiri, lalu Piders mulai memaksa diri untuk segera menyamakan posisi dengan mereka yang berprestasi gemilang seperti yang Piders lihat di media sosial. You become your own enemy.

Salah satu hal yang paling sering dilakukan oleh anak muda ketika berada di kondisi seperti itu adalah menerapkan tren hustle culture kepada dirinya sendiri. Hustle Culture merupakan sebuah lifestyle atau gaya hidup dengan pemikiran bahwa jika seseorang mau mencapai kesuksesan, maka ia harus (wajib) bekerja keras tanpa henti atau minim istirahat. Fenomena hustle culture pertama kali ditemukan pada tahun 1971, dan semakin menyebar dengan cepat, terutama di kalangan milenial. Fenomena ini membuat seseorang percaya bahwa aspek kehidupan paling penting adalah mencapai tujuan profesional dengan bekerja keras tanpa henti (non-stop). 

Secara tidak sadar, tren hustle culture ini ikut mempengaruhi mindset kita terhadap aktivitas yang pada umumnya kita lakukan, serta bagaimana strategi yang kita atur untuk mencapai target. Misalnya; kita ternyata banyak memikirkan dan mengkhawatirkan masa depan padahal yang bisa kita kendalikan adalah masa sekarang, orientasi aktivitas untuk selalu kerja keras tanpa diimbangi dengan kerja cerdas dan istirahat, juga menormalisasi pemikiran bahwa manusia memang semuanya harus mampu bekerja keras. 

 

Sebagian orang mungkin akan “kuat” menjalani aktivitas dengan tren hustle culture ini dalam waktu tertentu. Tetapi, sekuat-kuatnya orang, hustle culture bukanlah budaya yang dapat bertahan lama. Setiap orang memiliki kapasitas tertentu, dan ketika energi sudah mencapai batasnya, kita akan mengalami kelelahan yang akan berujung burnout, yaitu kondisi kelelahan secara fisik, mental, dan emosional. Ibarat kata, hustle culture adalah kerja rodi masa kini bagi anak muda. Sayangnya, banyak dari kita yang tidak sadar telah mengalami hustle culture dalam beraktivitas.

Nah, kalau Piders beberapa waktu ke belakang merasa kehilangan fokus dan pada akhirnya tidak produktif, timbul pikiran negatif akan segala hal, dan kesulitan mengelola emosi, bisa jadi Piders sedang mengalami hustle culture, nih!

 

Lalu, bagaimana cara menghadapinya?

Piders boleh, kok, mengambil jeda dan istirahat sejenak sembari merenungi fakta bahwa setiap orang punya batasan dan kapasitas berbeda untuk berjalan di trayek mereka masing-masing. Punya tujuan memang penting, sama pentingnya dengan menikmati perjalanannya. Jadi, jika ada pihak tertentu yang secara konstan terus-menerus memaksa Piders untuk “gila kerja” terhadap aktivitas Piders, coba deh pertimbangkan kembali untuk meninggalkannya. Last but not least, Piders boleh banget, kok, memilih circle yang nyaman untuk berkembang. Karena salah satu kunci kesuksesan seseorang itu berawal dari circle yang positif dan suportif.

So, stay productive and be a happy soul!

 

Amelia Ratih Amanda merupakan seorang gadis Minang yang lahir pada tanggal 27 Oktober 2001 di Kota Payakumbuh, Sumatera Barat. Saat artikel ini dibuat, Penulis sedang menempuh pendidikan S1 Ilmu Komunikasi di UIN SUSKA Riau. Sekarang, Penulis sedang berkecimpung di dunia jurnalistik dan komunikasi yang membuat Penulis sibuk di berbagai organisasi pelajar. Penulis juga aktif berbagi informasi atau cerita di media sosial Instagram @althaffz. Untuk tahu lebih jauh, langsung kunjungi saja media sosial Penulis. Salam.

 


Editor : Fathimah Azzahra

Happy
Happy
50 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
50 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By PPI TV

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *