Sekitar bulan Agustus dan September lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Nadiem Makarim menginstruksikan untuk memulai pembelajaran tatap muka kepada anak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas setelah kurang lebih satu setengah tahun menjalani pembelajaran secara daring, hal ini pun berlaku untuk perguruan tinggi. Keputusan untuk mengizinkan perguruan tinggi menjalankan kuliah tatap muka sudah disampaikan dan kabarnya akan segera dilaksanakan.
Satu setengah tahun tentu bukan waktu yang sebentar. Selama itu, kita—para pelajar—sudah membentuk kebiasaan baru yang didapat dari sistem perkuliahan daring. Beberapa kekurangan kuliah daring juga dirasakan para pelajar. Mulai dari kebiasaan multitasking yang dinilai mengganggu fokus belajar, misalnya melakukan kegiatan sampingan saat sedang berkuliah, seperti rapat atau bahkan yang ekstrem ada yang kuliah sambil masak, sampai-sampai keikutsertaan dalam perkuliahan semata-mata hanya untuk memenuhi presensi kemudian tertidur. Selain itu, dari survei singkat kepada 10 mahasiswa, 10 dari 10 mahasiswa merasa tidak memahami pelajaran atau memiliki pemahaman yang lebih buruk dibanding ketika berkuliah tatap muka. Terlebih lagi, banyak juga mahasiswa yang asal mengerjakan tugas atau ujian karena rasa letih selama berkuliah daring sehingga mereka memiliki kecenderungan untuk mencari alternatif cepat dalam mengerjakan tugas-tugasnya, seperti menyontek atau meniru dari internet.
Ketika perkuliahan baru saja dialihkan dari luring ke daring, banyak mahasiswa yang mengeluh betapa susahnya kuliah daring dan meminta untuk perkuliahan luring kembali. Namun, berbanding terbalik dengan kondisi sekarang. Saat ini, banyak mahasiswa yang akhirnya tidak ingin kembali berkuliah luring dikarenakan sudah terbiasa dengan kebiasaan berkuliah daring dan malas untuk beradaptasi lagi ketika kembali memulai kuliah tatap muka.
Lalu apa sajakah yang kira-kira harus dipersiapkan mahasiswa untuk beradaptasi kembali ketika memulai perkuliahan tatap muka? Yuk, simak beberapa hal yang perlu diperhatikan berikut ini, Piders!
Mental dan Kemauan Beradaptasi
Mental dan kemauan beradaptasi adalah hal paling penting yang harus disiapkan ketika akan memulai perkuliahan tatap muka. Manusia adalah makhluk hidup yang paling mudah beradaptasi dibanding makhluk hidup lainnya. Mengubah kebiasaan yang telah terbentuk selama berkuliah daring tidaklah mudah. Oleh karena itu, diperlukan mental yang kuat untuk beradaptasi dengan kebiasaan baru yang akan dibentuk di kuliah tatap muka. Jika kita tidak memiliki kemauan untuk beradaptasi dengan kebiasaan baru, maka kita akan lebih mudah mengeluh dalam menjalani rutinitas baru kita. Beda cerita jika kita memiliki mental yang kuat, maka kita akan lebih mudah beradaptasi dan dapat menikmati perkuliahan tatap muka, seperti saat-saat sebelum Coronavirus mewabah.
Kesehatan Tubuh
Selama satu setengah tahun, tubuh kita terbiasa nyaman dalam mengikuti perkuliahan daring, duduk di depan laptop selama berjam-jam, dan tidak membutuhkan waktu dan tenaga dalam pergantian kelas satu ke kelas lainnya. Oleh karena itu, tubuh yang sehat harus mulai dibentuk sebelum kita mengikuti perkuliahan tatap muka, sebab perkuliahan tatap muka akan lebih banyak membuat tubuh kita bergerak. Dari mulai berangkat ke kampus yang membutuhkan tenaga untuk berjalan, perpindahan kelas satu ke kelas lainnya yang mungkin berbeda gedung, mengikuti kegiatan-kegiatan luring lainnya yang tentunya akan membutuhkan tenaga lebih dibanding mengikuti rapat melalui ZOOM Meeting, dan masih banyak lagi. Dengan demikian, kesehatan tubuh perlu dipersiapkan dengan baik sebelum kembali mengikuti perkuliahan tatap muka agar tubuh kita siap dan tidak kaget dengan perubahan rutinitas baru.
Nah, berikut adalah dua hal yang dapat Piders persiapkan sebelum kembali memulai kuliah tatap muka, ya! Selamat bertemu kembali dengan teman-teman dan selamat belajar, Piders!
Penulis : Nur Hamamur Rizki
Editor : Adi Suwarno
