Piders, pernah nggak mendengar istilah growth mindset? Bila sudah, apa Piders sudah memahami makna dari istilah itu?
Istilah growth mindset pertama kali dicetuskan oleh seorang peneliti di Universitas Stanford yaitu Carol Dweck. Selain berprofesi sebagai seorang peneliti, Carol juga dikenal sebagai penulis buku psikologi terkenal. Dalam bukunya yang berjudul Mindset, Carol mengungkapkan bahwa ada dua jenis pola pikir di dunia ini yakni growth mindset (pola pikir tumbuh) dan fixed mindset (pola pikir tetap).
Orang dengan fixed mindset beranggapan bahwa bakat dan kemampuan yang ada dalam diri seseorang tidak bisa dikembangkan atau diubah sama sekali. Mereka juga lebih fokus pada hasil daripada proses yang akan dilalui, sehingga mereka cenderung menghindari tantangan yang ada. Selain itu, apabila mereka mendapatkan penolakan atau kegagalan mereka akan sangat mudah berkecil hati, sehingga sulit untuk berkembang.
Sementara itu, orang dengan growth mindset memiliki kesadaran bahwa kualitas seseorang bisa didapat melalui usaha. Mereka juga sangat menghargai proses yang terjadi dalam kehidupan, sehingga membuat mereka tidak ragu dan tidak takut menghadapi kegagalan.
Bagi mereka, kegagalan adalah pengalam baru yang bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan diri. Orang dengan growth mindset justru termotivasi jika mereka mendapat tantangan dan hal-hal yang sulit. Jadi, alih-alih berkecil hati ketika melakukan kesalahan, mereka justru akan mengintrospeksi diri dan menjadikan kegagalan tersebut sebagai pelajaran yang berharga.
So, bagaimana cara melatih growth mindset dalam diri kita?
1. Tidak Ada Kata Terlambat untuk Belajar
Sebuah penelitian bernama “Neuroplacity” mengungkapkan bahwa kemampuan seseorang untuk belajar dipengaruhi oleh keinginan orang itu sendiri daripada kemampuan asli mereka. Jadi, jika Piders mau mendalami filsafat pada usia 20 tahun, belajar cara memainkan gitar secara profesional pada usia 35 tahun, berlatih public speaking pada usia 43 tahun, atau baru mulai belajar menjahit pada usia 60 tahun, there’s no matter.
Hal itu dapat Piders tempuh tentunya dengan keseriusan dan konsistensi tinggi. Sebagai contoh, seorang warga Jepang bernama Masako Wakamiya adalah programmer IOS dan developer tertua di dunia, yang mulai belajar dan membuat aplikasi “Hindanan” pada usia senjanya yakni saat usianya sekitar 82 tahun. Keren banget, ya! Hal ini menarik perhatian Tim Cook dari Apple untuk menemuinya.
Setiap hari adalah hari yang tepat untuk belajar. Jadi, jangan pernah berpikir bahwa Piders terlambat untuk belajar suatu hal, ya!
2. Tidak Apa-apa Aku Gagal, Setidaknya Aku Belajar Sesuatu
Ketika gagal, reaksi seseorang terhadap kegagalan tersebut menunjukkan kecenderungan mereka. Faktanya, kegagalan juga merupakan langkah kecil menuju kesuksesan. Saat pemikiran Piders tumbuh, Piders cenderung menerima kegagalan.
Ternyata kegagalan bukanlah hasil mutlak dalam suatu kehidupan. Hal ini disebabkan oleh keyakinan yang berkembang bahwa bagian terpenting dari segala sesuatu itu adalah proses. Piders akan belajar bahwa banyak proses sulit yang pada akhirnya akan mengantarkan pada kesuksesan.
3. Menjadi Pembelajar Sepanjang Hayat (Be a Long Life Learner)
Seorang pembelajar seumur hidup didefinisikan sebagai seorang individu yang mengeksplorasi dan bertanya sepanjang hidupnya. Definisi ini menyiratkan bahwa seorang pembelajar akan selalu berusaha untuk memperluas wawasan, keterampilan, dan pengetahuannya.
Orang-orang dengan growth mindset akan senantiasa menjaga disiplin dan fokus untuk mengembangkan kebiasaan baik, terus belajar, dan berani mengeksplorasi diri. Menjadi pembelajar seumur hidup bukan hanya tentang mempelajari apa yang tidak kita ketahui, tetapi juga menerapkan ilmu yang dimiliki untuk kebermanfaatan pada masa yang akan datang.
Nah, kita jadi paham kan apa itu dan bagaimana cara melatih growth mindset? At least, bagaimanapun penerapan pola pikir dalam hidup, Piders mau pilih growth mindset ataupun fixed mindset, keputusan tetap ada di tangan Piders ya.
Jangan salah pilih, karena hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti!
—————————————
Oleh: Amelia Ratih Amanda
Editor: Ita’ul Masruroh
