Home (My) Sweet Home
Rumah dulunya bermakna sebatas wujud tempat, mengacu pada muara berpulangnya manusia dan segala mahluk hidup untuk peristirahatan dari segala penat dan peliknya dunia.
Melansir dari habitat.org, Linda mengatakan bahwa, “Home is a safe heaven and a comfort zone. A place to live with our families and pets and enjoy with friends. A place to build memories as well as a way to build future wealth. A place where we can truly just be ourselves. And whether our houses are big, small, fancy or modest, they are our shelters and our sanctuaries.”

Berangkat dari definisi subjektif yang diamini bersama itu, rumah rupanya berpusat pada ‘siapa’ yang mendiaminya, menghuninya sehingga menumbuhkan ketenteraman yang mengikat dan hangat. Rumah tidak selamanya berjabat dengan tempat, ia bahkan lebih kental dengan keberadaan perseorangan atau kolektif.
Rumah hanya sekadar bangunan tempat berteduh dan menumpang tidur jika tidak dihidupkan dengan eksistensi orang-orang. Rumah bisa saja menjadi ‘tempat menumpang’ bagi beberapa jika hanya patuh pada rutinitas, tapi menjadi sesuatu yang mendalam jika dibersamai dengan senyum dan bising ramai orang-orang di dalamnya.
Beberapa orang mengartikan rumah sebagai perasaan, pojok tempat berkeluh-kesah dan bertukar cerita gila yang diterima dengan terbuka.

Real Simple, website yang mendalami topik home design, DIY, dan tips kecantikan, mengumpulkan beberapa responden untuk ditanyai, “Apa makna rumah bagimu?”.
Jawaban yang dituai mengandung berbagai pandangan menarik. Millie Ayala dari New York berkata rumah adalah dimanapun anak-anaknya berada. Winter Skelton dari Missouri menyatakan rumah bukanlah ‘tempat’, tapi ‘perasaan’. Lain halnya dengan Jessica Hanson yang berucap bahwa rumah adalah sebuah tempat di mana dia bisa jadi diri sendiri seratus persen.
Umur manusia yang kian senja tanpa menunggu sadar mendorong masing-masing dari kita bergerak mendefinisikan ‘rumah’ bagi diri sendiri. Dengan berbagai pemantik yang bisa dijadikan tonggak, dengan beragam kisah yang menjadi pondasi, dengan bermacam sudut pandang yang tidak stagnan.
Penulis: Chavia Dewi Aurel
