2 0
Read Time:2 Minute, 17 Second

Sebagai perempuan, kita memiliki hak untuk menentukan pilihan dalam hidup. Akan tetapi, mengapa banyak sekali perempuan yang mengalami hambatan bahkan celaan bahwasanya perempuan tidak punya hak yang lebih tinggi dibanding dengan laki-laki.

Budaya patriarki yang telah mengakar sejak dini kini mengakibatkan perempuan tidak memiliki banyak ruang untuk berperan. Perempuan kerap dianggap lebih rendah dan kemampuannya sering diabaikan dan diremehkan. Ambisi dan mimpi yang dimiliki perempuan terkadang menjadi cibiran karena bertentangan dengan tradisi yang telah mendominasi di kehidupan sosial.

 

Dalam Islam, laki-laki dan perempuan memiliki fitrahnya masing-masing. Mereka memiliki kodrat, hakikat, dan hukum Tuhan yang telah berlaku dan tidak dapat diubah.

Pada keduanya, terdapat posisi yang setara untuk mendapatkan kesempatan yang sama dalam menjalani hidup di berbagai bidang, baik pendidikan, sosial, politik seni, dan lain sebagainya. Karena baik perempuan dan laki-laki, masing-masing memiliki potensi kemanusiaan yang sama, seperti kemampuan intelektual, mental, dan spiritual. Perbedaan gender bukanlah hambatan bagi perempuan untuk bisa berkembang.

 

Namun, di saat banyak perempuan yang menganut paham feminisme untuk memperjuangkan hak wanita agar wanita tidak lagi dilihat sebelah mata, justru ditanggapi sebagai stereotip yang buruk di mata masyarakat karena dianggap sebagai gerakan yang mengandung unsur menggantikan peran laki-laki.

Padahal, feminisme sendiri bukanlah persaingan untuk mengalahkan laki-laki, akan tetapi kolaborasi dan saling melengkapi dalam masyarakat agar adil dalam gender bahwa perempuan juga memiliki hak yang sama dan setara.

 

Gerakan feminisme merupakan gerakan yang menjunjung tinggi persaudaraan antar perempuan. Kita bisa belajar dari kasus hangat yang terjadi di masyarakat tentang cemoohan sesama perempuan yang melaporkan ke petugas setempat bahwa tidur di kursi kereta dianggap tidak pantas, dalam kondisi korban diketahui sedang mengalami sakit perut akibat datang bulan.

Kasus tersebut kembali meramaikan warganet karena pelaku dianggap tidak memiliki hati nurani dan tidak manusiawi terhadap sesama perempuan. Bukankah dalam bermasyarakat kita dianjurkan untuk tidak menilai sesuatu hanya dari luar? Karena sekecil apapun derita yang orang lain rasakan tidak sebaiknya kita menganggap remeh dan menyepelekannya. Kasus tersebut kembali mengingatkan kita bahwa sesama perempuan sepatutnya kita saling bergandengan, bukan saling menjatuhkan.

 

Hidup ini seringkali dianggap sebagai ajang kompetisi dalam meraih kesuksesan, padahal kesuksesan bukanlah ajang kompetisi. Bentuk-bentuk kolaborasi atau kerja sama lebih baik untuk kita lakukan agar setiap perempuan tidak akan pernah merasa sendirian. Mendukung sesama perempuan bukan berarti kita gagal dalam meraih kesuksesan, pun selalu berpikir positif bukanlah tanda bahwa kita lemah.

 

Maka dari itu, mulailah kembali menanamkan rasa empati dan kemurahan hati dengan menciptakan lingkar antar perempuan untuk berbagi pikiran, perasaan, dan keberanian. Jika laki-laki dipromosikan karena potensinya, maka perempuan berdasarkan performa yang sudah dibuktikannya. Mari mendukung sesama perempuan dengan saling menjunjung erat tali persaudaraan sesama kita dengan lebih baik. Kalau bukan dari kita sebagai kaum muda, lalu siapa lagi?

 

Penulis: Sagita Nur Bachri

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By PPI TV

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *