Wuhan, China – Pagi Kamis (23/5) di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok, disambut dengan gema takbir yang menggema dari sudut-sudut kota. Ribuan umat Muslim, termasuk warga negara Indonesia (WNI), memadati tiga masjid utama yaitu Masjid Jiang’an, Masjid Qiyi Men, dan Masjid Majiazhuang untuk menunaikan salat Idulfitri 1446 Hijriah.
Meskipun berada jauh dari kampung halaman, suasana Lebaran tetap terasa hangat di tengah kota yang dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan dan industri di Tiongkok tengah. WNI dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar, pekerja migran, hingga keluarga yang bermukim di Wuhan, turut ambil bagian dalam perayaan hari kemenangan ini.
Kebersamaan Diaspora Indonesia di Negeri Tirai Bambu
Menurut Khairul Azmi, Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia Tiongkok (PPIT) Wuhan, suasana Idulfitri tahun ini lebih semarak dibandingkan beberapa tahun sebelumnya yang sempat dibatasi akibat pandemi. Ia menjelaskan bahwa mahasiswa dan pekerja Indonesia tersebar di berbagai distrik, sehingga memilih masjid terdekat untuk beribadah.
“Sebagian dari kami salat di Masjid Jiang’an, sebagian di Qiyi Men dan Majiazhuang. Semuanya tetap terasa hangat karena setelah salat kami saling menyapa dan mengucapkan selamat Lebaran. Rasa kekeluargaan itu tidak pernah hilang meski kami jauh dari tanah air,” ujar Khairul saat diwawancarai di pelataran Masjid Jiang’an.
Khairul menambahkan, setelah salat Id, beberapa mahasiswa langsung kembali ke kampus masing-masing karena adanya jadwal kuliah. “Sistem akademik di Tiongkok tidak libur untuk Idulfitri, jadi ada yang harus langsung masuk kelas. Tapi bagi yang libur, kami manfaatkan waktu untuk berkumpul,memasak bersama, atau sekadar jalan-jalan menikmati suasana kota,” ujarnya.
Antara Kuliah dan Ketupat: Ritme Lebaran Mahasiswa Indonesia
Momen Lebaran menjadi pengingat akan pentingnya solidaritas di tengah diaspora. Banyak mahasiswa saling berbagi makanan khas Indonesia seperti rendang, opor ayam, dan sambal goreng kentang, meski dalam jumlah dan skala yang lebih sederhana dibandingkan di Indonesia. Beberapa juga mengirimkan makanan ke teman-teman sesama WNI yang tidak sempat berkumpul karena kesibukan akademik.
“Kami masak bareng di asrama, sederhana tapi rasanya tetap seperti di rumah. Makanan jadi perekat kami di sini,” ungkap Khairul. Ia menyebutkan bahwa gotong royong menjadi semangat utama dalam menyambut Lebaran di perantauan.

Lebaran Keluarga Indonesia di Negeri Orang
Bagi Hidra Silviana, seorang WNI yang menetap di Wuhan bersama suami dan anaknya, Lebaran di luar negeri adalah pengalaman yang unik sekaligus emosional. “Ini Kedua kalinya kami berempat Lebaran di luar negeri. Awalnya terasa sepi, tapi bertemu komunitas Indonesia di sini membuat kami merasa lebih tenang dan bersyukur,” ujarnya.
Hidra melaksanakan salat Id di Masjid Jiang An, salah satu masjid yang banyak dikunjungi umat Muslim asing untuk shalat Idul Fitri karena bangunannya besar, dan banyak bazar-bazar makanan halal. “Suasananya sangat damai. Kami bahkan bisa berkenalan dengan Muslim lokal yang ramah dan terbuka,” tambahnya.
Harmoni Iman dan Budaya di Wuhan
Masjid-masjid di Wuhan, seperti Masjid Jiang’an dan Qiyi Men, memiliki nilai historis dan sosial yang penting dalam kehidupan umat Muslim di kota itu. Masjid Jiang’an, misalnya, dikenal sebagai salah satu masjid tertua di Wuhan yang dibangun dengan arsitektur khas Tiongkok. Setiap tahun, masjid ini menjadi pusat kegiatan keagamaan yang dihadiri oleh komunitas Muslim lokal, terutama etnis Hui, serta warga negara asing.
“Beribadah di masjid yang menyatukan banyak bangsa memberikan pengalaman spiritual tersendiri. Di satu saf yang sama, ada orang Indonesia, Pakistan, Mesir, dan warga Tiongkok Muslim. Ini menunjukkan indahnya keberagaman dalam Islam,” ujar Khairul.
Momen salat Id juga menjadi ajang silaturahmi antarwarga, termasuk antara komunitas Indonesia dan Muslim lokal. Menurut Hidra, setelah salat Id, beberapa warga Tiongkok yang sudah lanjut usia menyapa jamaah Indonesia dengan senyum dan gestur damai. “Ada yang bahkan menawarkan teh hangat. Rasanya seperti bertemu saudara jauh,” katanya.
Lebaran di Tanah Rantau: Hangat, Sederhana, dan Penuh Arti
Meski tanpa takbir keliling, hidangan mewah, atau tradisi mudik, Idulfitri di Wuhan tetap memiliki makna yang dalam bagi diaspora Indonesia. Di tengah perbedaan budaya dan sistem, semangat Lebaran tetap hidup melalui doa, kebersamaan, dan rasa syukur.
“Yang paling penting bagi kami bukan kemewahan, tapi semangat silaturahmi dan kekuatan untuk tetap bersyukur. Itu yang terus kami bawa meski jauh dari rumah,” pungkas Khairul.
Perayaan ini membuktikan bahwa Idulfitri bukan hanya soal tempat, tapi soal hati dan kebersamaan. Di Wuhan, kota yang sempat menjadi pusat perhatian dunia, gema takbir dan ukhuwah Islamiyah tetap menggema, menandai kemenangan iman yang tidak mengenal batas geografis. (Laporan Anhar Fazri)
