Setiap kita punya kesempatan untuk memberikan kepercayaan kepada orang lain. Entah itu dalam suatu hubungan pertemanan, persahabatan, percintaan, dan bentuk sosial lainnya. Kepercayaan merupakan tanggung jawab besar yang diberikan seseorang kepada kita. Ketika ia menaruh kepercayaannya pada kita, di saat itulah kita diberi tanggungan untuk memenuhinya. Namun, sering kali kita salah presepsi dan melupakan hakikat sebuah “kepercayaan”. Bahkan, ada yang menjadikannya sebagai “sarana” untuk mencapai suatu tujuan.
Menurut Prof. Dr. Syamruddin Nasution, “kepercayaan ialah mengakui akan kejujuran dan kemampuan seseorang benar-benar dapat memenuhi harapan”. Dengan artian, ketika seseorang memberikan kepercayaan, maka ketika itulah kejujuran dituntut. Namun, banyak dari kita memanfaatkan kesempatan ini untuk hal yang kurang baik. Kadang kala ada si A yang memberikan kepercayaan penuh kepada si B. Namun, si B malah merusak kepercayaan tersebut sehingga muncul trust issues yang membuat si A kehilangan respect dalam memercayai pada orang lain.
Tapi, tahu enggak sih Piders, bahwa untuk memasuki tahap “percaya” kepada orang lain juga ada aturannya lho. Kenapa begitu ya? Sebab, terlalu percaya kepada orang lain tidak menutup kemungkinan untuk dikecewakan lho. Bahkan, dapat berdampak pada mental health atau trust issue. Wahh serem juga ya, yuk kita bahas apa aja sih aturan dalam memercayai orang lain dan dampak apa saja yang bisa timbul karenanya jika dilakukan secara berlebihan.
Ketika kita ingin memberikan kepercayaan kepada orang lain, kita tidak boleh memberikan kepercayaan sepenuhnya dan beranggapan bahwa orang itu adalah orang yang “baik”. Sebab, tidak ada orang yang sangat baik, kecuali dia hanya sedang berusaha menjadi baik atau hanya sebagai orang baik. Yuk kenali aturan berikut yang perlu kamu ketahui sebelum “percaya” kepada orang lain.
1. Jangan Mudah Percaya pada Kesan Pertama
Setiap orang pasti akan memberikan kesan terbaik di pertemuan pertama. Banyak yang berlagak seolah akan memberikan kesempatan, padahal semua hanya jejak harapan. Memberikan sebuah rasa siap untuk dipercaya, padahal itu hanya kesan awal agar kita terkesima.
Tidak ada janji yang bisa kita pegang di awal pertemuan. Tidak ada kesimpulan yang menjadi jaminan bahwa orang yang kita temui pada pertemuan pertama adalah orang baik. Tidak ada jaminan orang yang berpenampilan baik bisa dikatakan sebagai orang yang memiliki niat baik kepadamu. Jadi Piders, jangan sesekali menaruh kepercayaan utuh kepada orang yang baru kamu kenal. Jangan pernah terpukau dengan kesan pertama sebelum kamu mengenalnya dengan benar.
2. Selektif untuk Percaya
Tidak sedikit orang bersikap “baik” tanpa tujuan. Banyak yang memanfaatkan kepercayaan untuk dijadikan sebagai “batu pijakan” dalam mencapai tujuan mereka. Kita sering kali tertipu dengan sikap baik seseorang dan langsung memercayainya. Namun, terkadang kita tidak sadar jika sedang dimanfaatkan. Jangan terlalu terburu mengambil kesimpulan untuk menaruh kepercayaan kepada seseorang. Cukup berikan kepercayaanmu sedikit saja kepada orang-orang yang benar-benar kamu percaya dan bisa menjaga kepercayaanmu. Semakin dewasa, kamu akan semakin mengerti bagaimana harus selektif dalam memercayai orang lain.
3. Manusia Manipulatif
Banyak orang yang bersikap baik dan seolah-olah sangat baik kepadamu. Melalui perlakuannya, kata-katanya, hingga kamu begitu percaya bahwa ia adalah orang baik yang kamu temui. Padahal, ada rasa “manipulatif” menyelimutinya. Berlagak seolah dia bersikap hanya baik kepadamu, padahal dia hanya sedang memanipulatif kita untuk menyembunyikan dirinya yang sebenarnya. Hal ini tidak asing lagi kita temui. Banyak manusia manipulatif yang mementingkan egonya demi menjaga eksistensi diri tanpa memikirkan kepercayaan orang yang hilang olehnya. Jadi, jangan cepat percaya kepada orang lain ya, Piders!
Nah, kita harus lebih selektif ya dalam memberikan kepercayaan kepada orang lain. Kenapa sih harus sebegitu ketat hanya untuk sekadar memberikan “kepercayaan”? Yuk bahas dampak terbesar jika kita memberikan kepercayaan cuma-cuma atau terlalu percaya kepada orang lain.
Piders tahu enggak sih, kalau kita terlalu percaya kepada orang lain, ada kemungkinan kita akan disakiti? Terkadang bukan dia yang menyakiti, tetapi ekspektasi kita yang terlalu tinggi dan menganggap dia terlalu baik menjadi boomerang kepada diri sendiri atau terkadang memang dia orang yang salah untuk dipercaya. Ketika kita telah memberikan kepercayaan kita kepada orang lain, di saat yang bersamaan dia tidak bisa menjaga kepercayaan itu, kita pasti akan merasa ragu bahkan tidak mau percaya lagi, bukan? Bahkan, tanpa kita sadari, kita merasa trauma dengan masa lalu, maka saat itu terjadi, sebenarnya kita sedang mengidap salah satu mental health issue lho!
Yap, issue ini bernama Pistanthrophobia, rasa takut memercayai orang lain. Dilansir dari Klik Dokter, Pistanthrophobia adalah rasa takut memercayai orang lain. Fobia ini sering kali disebabkan oleh kekecewaan serius atau akhir yang menyakitkan pada hubungan sebelumnya. Entah itu dari hubungan percintaan, pertemanan, keluarga, dan hubungan sosial lainnya. Lalu, apa sih ciri-ciri seseorang mengidap Pistanthrophobia?
- Panik dan ketakutan yang sering kali berlebihan;
- Ada dorongan atau keinginan kuat untuk menjauh peristiwa, orang, atau objek tertentu;
- Menghindari percakapan atau interaksi mendalam dengan seseorang.
Dengan artian, seseorang sangat menghindar dan memilih untuk menghindar dibanding memberikan kepercayaan kepada orang lain. Lalu, bagaimana ya cara mengatasinya?
Menurut Psikolog Ikhsan Bella Persada, M.Psi., “seseorang yang memiliki gejala di atas lebih baik meminta bantuan kepada psikolog atau psikiater“. Sebab, hal itu sangat memengaruhi kualitas hidup mereka dan hal ini merupakan treatment yang sama yang diberikan untuk penderita fobia laba-laba atau ketinggian. Terapis akan membiarkan mereka secara perlahan untuk mengembangkan toleransi terhadap stimulus yang mereka takuti.
Wah, ternyata dampaknya sangat mengerikan ya, Piders. So, stop for think everyone is the “very kind”, because no one people more than “kind” but just “kind”. Berhenti untuk dengan mudah percaya dan memberikan kepercayaan kepada orang lain karena tidak semua orang itu “sangat baik”, tetapi terkadang hanya sedang baik, berusaha menjadi baik, dan hanya baik.
Selektiflah dalam memilih mana yang seharusnya diketahui dan tidak perlu diketahui. Berhentilah untuk berekspektasi bahwa orang itu telalu baik dan akan selalu baik. Sebab pada hakikatnya, manusia memiliki kelemahan dan titik berhenti sejenak untuk menjadi baik.
So Piders, yang tahu tentang dirimu adalah kamu. Katakan apa yang harus dikatakan, beritahu apa yang harus diberitahu. Selektiflah dalam memilih orang dan dalam menceritakan sesuatu. Tinggalkan apa yang membuatmu sakit dan jatuh. Pertahankan apa yang membuatmu baik dan menjadi lebih baik.
Penulis: Nia Rezky Mardhatillah
Editor: Adi Suwarno
