0 0
Read Time:3 Minute, 15 Second

Istanbul — Istanbul adalah kota yang kaya akan sejarah dan keindahan. Tak heran jika banyak teman-teman saya berlomba-lomba untuk melanjutkan studi di Turki, khususnya di Istanbul. Namun, sejujurnya, saya tidak pernah memiliki niat untuk kuliah di luar negeri. Saya merasa belum cukup berani dan kuat secara mental untuk merantau ke negara orang tanpa mengenal siapa pun di sana. Saat teman-teman saya mulai sibuk mempersiapkan studi ke luar negeri, saya justru fokus mencari universitas di dalam negeri.

Segalanya berubah ketika salah satu kakak kelas saya berhasil kuliah di Turki. Melihat keberhasilannya diterima di salah satu universitas negeri di sana membuat saya penasaran tentang negara tersebut. Saya mulai mencari tahu lebih banyak tentang Turki, dan dari sekian banyak kota, Istanbul adalah yang paling menarik perhatian saya. Semakin saya menggali informasi, semakin saya kagum—dari sejarahnya yang luar biasa hingga lingkungannya yang indah, seolah berada di negara-negara Eropa lainnya. Saya mulai membayangkan betapa menyenangkannya jika bisa kuliah di sana. Sejak saat itu, saya mulai mencari universitas di Istanbul, hingga akhirnya saya tertarik pada salah satu kampus, yaitu Istanbul Medipol University.

Saat memasuki tahun terakhir sekolah, saya mulai mempersiapkan berbagai dokumen yang dibutuhkan untuk kuliah di Istanbul. Mulai dari pendaftaran ke Medipol, proses legalisasi (apostille), hingga dokumen tambahan karena saya lahir dan besar di Arab Saudi. Syukurlah, semua proses berjalan lancar. Tepat pada 24 September 2023, saya berangkat bersama dua teman seangkatan saya. Setibanya di Istanbul, kami mulai mencari tempat tinggal dan mempersiapkan kebutuhan lainnya.

Mencari rumah di Istanbul ternyata cukup menantang. Banyak pemilik rumah yang tidak menerima penyewa asing. Hal ini cukup melelahkan, apalagi ditambah dengan culture shock yang saya alami. Misalnya, nada bicara orang Turki yang terdengar seperti marah, padahal sebenarnya tidak. Ini merupakan pengalaman pertama saya menghadapi perbedaan budaya secara langsung.

Memasuki hari pertama perkuliahan, saya merasa gugup dan takut karena masih belum terbiasa dengan lingkungan sekitar. Namun, rasa takut itu sedikit berkurang ketika ada seseorang warga turki yang berasal dari Ankara yang menyapa saya terlebih dahulu. Awalnya saya mengira akan sulit mendapatkan teman, tetapi ternyata tidak demikian. Kurang dari dua minggu, saya sudah memiliki teman dari berbagai negara. Saya pun mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan kampus. Banyak warga Turki yang berada di kampus mampu berbahasa Inggris dan mereka sangat ramah. Meskipun jurusan saya berbahasa Inggris, saya tetap belajar bahasa Turki secara mandiri, dibantu oleh beberapa teman.

Saya pikir semuanya akan berjalan lancar. Namun, masalah mulai muncul ketika teman saya mengingatkan bahwa saya harus segera mengurus ikamet (izin tinggal). Prosesnya cukup rumit, tetapi teman saya dengan sabar membantu dan mengarahkan. Setelah semua dokumen disiapkan, saya harus menempuh perjalanan selama dua jam untuk menyerahkannya. Sayangnya, setibanya di kantor, berkas saya ditolak tanpa penjelasan yang jelas. Saya kebingungan dan merasa lelah, terlebih ketika beberapa kali bertanya namun tidak mendapatkan jawaban. Akhirnya, teman saya menjelaskan bahwa ada kesalahan dalam pencetakan dokumen. Saya segera mencetak ulang, lalu berlari sekitar 16 menit ke kantor imigrasi, tetapi tetap ditolak dan diminta datang kembali keesokan harinya.

Perasaan lelah dan kesal bercampur aduk, namun saya tidak menyerah. Esok harinya, saya berangkat lebih pagi, pukul 07.00. Alhamdulillah, akhirnya berkas saya diterima.

Suka dan duka telah saya lalui. Tak jarang ada rasa ingin menyerah dan pulang saja, karena perbedaan budaya dan tekanan yang saya rasakan. Namun setiap kali keinginan itu muncul, saya teringat akan semua perjuangan dan pengorbanan yang telah saya lakukan. Tidaklah bijak untuk berhenti di tengah jalan. Ada gelar yang harus dikejar, meskipun harus disertai dengan lelah dan air mata.

Di balik semua tantangan itu, saya mendapatkan banyak pelajaran berharga: menjadi lebih mandiri, mampu mengatur keuangan sendiri, belajar bahasa baru, serta hidup di lingkungan baru. Setiap tantangan selalu membawa pembelajaran baru yang membuat saya menjadi pribadi yang lebih kuat. Saya yakin bahwa suka dan duka yang saya alami hari ini merupakan anak tangga menuju kesuksesan dan kedewasaan. Perjalanan ini membentuk saya menjadi sosok yang lebih tangguh secara mental, dan saya percaya semua ini tidak akan sia-sia.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By PPI TV

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *