
Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Frankfurt dan sekitarnya (Ketua PPI Frada) periode 2019-2020, Sarahvaty A. Hartono (Sarah) saat ini masih menyelesaikan studi arsitektur di Hochschule Darmstadt. Kali ini Sarah berbagi informasi kepada seluruh anak Indonesia tentang arsitektur di Jerman. Iya, banyak yang mengira kalau belajar arsitektur itu hanya sekadar mendesain rumah yang unik, menata dan mendekorasi sebuah rumah atau menggambar sebuah bangunan beserta ruangan-ruangannya karena pada dasarnya arsitektur itu adalah sebuah keseimbangan dan koordinasi antara estetika, kekuatan dan kegunaan. Sayangnya, tidak hanya tentang itu. Nah, apa saja sih ha-hal yang perlu kamu ketahui sebelum lanjut kuliah arsitektur di Jerman?
Yuk, langsung simak hasil interview Iffah Zehra (Desainer, Kepala Redaksi PPI TV & Chief Web Officer PPI TV periode 2019-2020) dengan Kak Sarahvaty!
Pertama: Arsitektur itu bukan cuma desain, tapi juga tentang fungsi dan konstruksi
Kamu harus berpikir lebih dalam lagi mengenai konsep bangunan yang akan dibangun. Arsitektur di Jerman sangat berkutat pada fungsionalitas yang artinya tidak ada ruangan yang tidak memiliki fungsi, sekalipun itu dibuat dengan alasan estetika. Mengapa? karena letak geografis negara Jerman yang memiliki 4 musim, makanya konstruksi bangunan menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan dengan baik. Apalagi saat musim dingin, bangunan di Jerman tentunya memiliki konstruksi khusus untuk menghadapi temperatur ekstrem. Setelah selesai dengan konsep, desain dan fungsionalitas, barulah dilanjutkan dengan konstruksi bangunan. Nah, bagi kamu yang ingin kuliah arsitek di Jerman harus menyesuaikan susunan material bangunan dengan konsep yang sudah jadi. Namun, seperti yang sudah dijelaskan bahwa fungsionalitas merupakan hal utama bagi arsitektur di Jerman, sehingga sering menyebabkan ketidakcocokan antara bentuk dan material bangunan. Ya, memang pada kenyataannya banyak bangunan di Jerman yang tidak terlihat indah dikarenakan hal tersebut, namun sangat nyaman untuk ditempati.
Kedua: Diskusi dengan Profesor

Setiap semester kamu akan mengerjakan sebuah proyek tertentu. Misalnya hotel, asrama, rumah kelurahan atau kecamatan, sekolah, hall olahraga, teater, bahkan museum. Kamu harus rajin datang ke kelas untuk ‘korrektur‘, dimana kamu akan mendapatkan waktu dan giliran untuk berdiskusi dengan profesor mengenai konsep yang kamu buat. Profesor tidak bekerja sendiri, tapi juga bersama asistennya yang biasanya seorang arsitek atau bekerja di bidang teknik sipil. Kegiatan ini sangat penting dan jangan sampai kamu melewatkannya karena kamu membutuhkan feedback dari mereka supaya kamu tidak salah dalam merancang bangunan. Bersiaplah untuk menyertakan argumen logis saat berdiskusi untuk memperkuat konsepmu karena percaya atau tidak mereka akan
mempertanyakan, menyarankan dan mengkritik semua ide konsepmu berdasarkan pengetahuan dan pengalaman mereka.
Ketiga: Gambar tangan VS gambar program

Topik yang satu ini sering menjadi bahan perbincangan dan pertimbangan para calon mahasiswa yang mau kuliah arsitektur karena tidak sedikit orang yang tidak bisa menggambar bebas (Freihandzeichnen – menggambar tanpa pakai penggaris atau alat bantu apapun), begitupun halnya dengan Sarah. Hal ini terkadang membuatnya sangat gugup karena menggambar bebas adalah salah satu modul kuliah di semester 3 dan 4 di fakultasnya. Tapi, sebelum
modul ini, tentunya Sarah belajar teknik menggambar terlebih dulu dengan menggunakan alat bantu (penggaris dan jangka) dan ini masuk di modul semester 1 dan 2. Seiring dengan kemajuan zaman dan semakin canggihnya teknologi, tentu dibutuhkan teknik menggambar cepat. Kalian mungkin pernah mendengar Vectorworks, AutoCAD, Revit atau ArchiCAD, dan lain sebagainya. Aplikasi-aplikasi tersebut merupakan software 2D & 3D yang digunakan oleh para arsitek dalam mengerjakan sebuah proyek. Kalian nantinya juga akan belajar software ini untuk mempermudah pekerjaan kalian. Dari dua hal ini muncul sebuah pertanyaan krusial, “Apakah kuliah Arsitektur harus bisa menggambar?“ Jawabannya adalah IYA! Mengapa? karena untuk mengembangkan sebuah konsep, kamu harus bisa menggambar cepat untuk menuangkan idemu, yang biasa disebut dengan sketsa.
Keempat: Membangun maket (Modellbau)

Untuk merealisasikan konsep rancangan bangunan kamu tidak hanya harus menggambarnya secara 2D tapi juga perlu memvisualisasikannya ke dalam suatu bentuk nyata untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik. Membangun maket berdasarkan konsep rancanganmu merupakan hal penting yang harus dilakukan karena
hal itu juga merupakan bagian dari pengerjaan proyek semester. Iya, kamu akan membangun maket dengan menggunakan beberapa material seperti cardboard, wooden pick, wooden board, dan lain sebagainya. secara manual (dengan tangan-menggunakan cutter, cuttting mat, lem kayu, dan lain sebagainya) atau dengan mesin (laser). Mengerjakan maket dapat memakan waktu yang sangat lama apalagi kalau kamu sedang mengerjakan proyek besar dan kamu harus merogoh uang yang cukup besar demi mendapatkan hasil yang maksimal. Semua ini harus kamu kerjakan sendiri dan kamu harus bisa memanajemen waktu dengan baik agar tidak keteteran dengan pelajaran lainnya.
Terakhir: Vorpraktikum dan praktikum

Kedua hal ini merupakan kegiatan yang sama namun memiliki durasi dan persyaratan yang berbeda. Vorpraktikum adalah kegiatan praktikum lapangan atau kantoran sebelum masa kuliah dimulai dan durasinya tergantung dari setiap Uni/FH/HS (biasanya menjadi salah satu syarat untuk memulai studi). Tujuan kegiatan ini adalah supaya kamu bisa mendapat gambaran mengenai apa yang akan kamu pelajari saat kuliah nanti. Sarah juga sudah pernah mengambil Vorpraktikum di salah satu perusahaan konstruksi bangunan (Bauunternehmung) selama 6 minggu. Di sana Sarah bisa melihat langsung proses penggalian tanah, pemasangan pondasi, dan sebagainya. Kebetulan waktu itu, sedang ditahap pengerjaan Tiefbau (underground working) dimana pondasi sebuah bangunan akan dipasang dan merupakan tahap pembangunan yang paling penting. Sarah melihat langsung pemasangan baja, pengecoran beton ke dalam pondasi, pemasangan isolasi (Dämmung) pada lapisan pondasi dan lain sebagainya. Proses-proses inilah yang nantinya akan dibahas dan dijelaskan pada perkuliahan melalui gambar teknik atau gambar potongan. Ehrlich zu sagen, sejauh ini Sarah menjadi lebih mengerti apa yang dijelaskan oleh profesor mengenai suatu potongan gambar konstruksi tertentu. Beberapa Uni/FH/HS mempunyai syarat kelangsungan studi untuk mengambil praktikum selama enam bulan di akhir semester (Praxissemester) sebelum kamu mengerjakan tesis.
_____
Narasumber: Sarahvaty A. Hartono (Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Frankfurt dan sekitarnya “PPI FRADA” periode 2019-2020)
Tidak perlu takut apabila kamu tidak terlalu bisa menggambar jika ingin kuliah arsitek di Jerman karena selama kuliah kamu juga akan belajar menggambar dan seiring waktu berjalan, kamu akan terus berkembang. -Sarahvaty A. Hartono (Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Frankfurt dan sekitarnya “PPI FRADA” periode 2019-2020)
