Mevlana Celaluddin El-Rumi atau yang lebih dikenal dengan Maulana Jalaluddin Al-Rumi adalah seorang agamawan yang hidup pada abad ke-13. Ia lahir tahun 1207 di daratan yang sekarang menjadi kawasan Afganistan dan meninggal pada 1273 di Konya, Turki. Selain seorang agamawan, ia juga seorang penyair, pengajar ajaran Sufi dan seorang muslim beraliran Sunni Persia. Jika di Indonesia, orang lebih mengenalnya dengan sebutan Al-Rumi atau Rumi, di Turki, beliau lebih dikenal dengan sebutan Mevlana. Banyak kutipan-kutipan puisinya yang terkenal hingga saat ini. Mau tahu apa saja kutipan-kutipannya?

Pertama: Büyük bir derdim deme

Kutipan panjangnya, “Eğer bir gün dünya’ya çok büyük bir derdin olursa, Rabb’ine dönüp, ‘Benim çok büyük bir derdim var’ deme! Derdine dönüp, ‘Benim çok büyük bir Rabb’im var’ de!” Yang artinya, “Ketika suatu saat kau memiliki masalah yang amat besar, jangan menghadap Rabbmu dan berkata, ‘Aku memiliki masalah yang amat berat.’ Tapi hadapilah masalahmu dan katakan, ‘Aku memiliki Rabb yang amat besar.’”

Dari kutipan ini, kita belajar untuk jangan mudah mengeluh kepada sang Khalik. Biar bagaimana pun, setiap insan ada bersama-Nya. Masalah sebesar apapun jika kamu tetap berada pada jalan-Nya, maka kamu pasti akan menemukan jalan keluarnya.

Kedua: Bencillik gözüne takılmış ayna gibidir

Kutipan ini memiliki makna mendalam yang mengajarkan kita agar tidak merasa egois dan paling benar. Arti kutipan ini mengatakan, “Keegoisan itu seperti cermin yang terpasang di matamu.” Biarkan mata itu memandang ke mana saja, tetapi tidak bisa memandang dirinya sendiri. Karena biar seberapa hebatnya orang lain, di mata orang egois tidak akan terlihat hebat.

Ketiga: Allah’ın gölgesi kulun başı üstündedir

Arti dari kutipan ini ialah, “Bayangan Allah berada di atas kepala hamba-Nya.” Allah memiliki sifat maha penyayang. Dengan kata lain, Allah akan menyayangi semua makhluk ciptaannya tanpa terkecuali. Karena Allah akan berada di manapun hamba-Nya berada. Barang siapa yang mencari-Nya, maka pada akhirnya akan menemukannya.

Keempat : Mum olmak kolay değildir

 

Kutipan panjangnya ialah, “Mum olmak kolay değildir. Işık saçmak için, önce yanmak gerek.” Yang berarti, “Menjadi sebuah lilin tidaklah mudah. Untuk menghasilkan cahaya, ia harus membakar dirinya terlebih dahulu.” Melalui kutipan ini, Rumi mencoba menyampaikan betapa hebatnya orang yang bisa menjadi manfaat bagi banyak orang. Beliau mengibaratkannya dengan sebuah lilin. Lilin memberikan cahaya dengan mengorbankan dirinya yang harus dibakar, lalu memberi manfaat kepada sekitarnya. Betapa hebatnya, orang yang bisa berkorban untuk orang banyak di sekitarnya dengan mengorbankan kepentingan pribadinya.

Terakhir: Tatlı yaşayan acı ölür, bedenine tapan canını kurtaramaz

Artinya, “Orang yang hidup nyaman akan mati menderita. Orang yang menyembah badannya tidak akan bisa menyelamatkan ruhnya.” Maksud dari kutipan ini, mengajarkan kita tentang makna kehidupan. Kehidupan tidak selamanya memberikan kesenangan. Terkadang lewat cobaan dan masalah yang merundung, Sang Pencipta sedang memberi peringatan pada hamba-Nya. Menurut Rumi, orang yang hidup dengan nyaman tanpa cobaan, akan mati dengan pedih. Biar bagaimana pun cobaan dan segala masalah adalah sebuah ‘utusan’ dari kematian. Beliau juga berpesan pada syair yang sama dengan kutipan ini, “Jangan berpaling dari utusan kematian, wahai orang-orang yang berkutat pada pekerjaan tak pasti!”

_____

Penulis: Hisyam Azhari, Blog Writer PPI TV 2019-2020 &  Mahasiswa S-1 jurusan Ekonomi Industri di Universitas Uludag, Bursa, Turki

Editor: Iffah Zehra (Kepala Redaksi PPI TV 2019-2020 & Koordinator Website PPI TV 2019-2020)

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *