
Piders, jika berkunjung ke Jogja mungkin akan tertuju ke Malioboro, Kraton Yogyakarta, candi, hutan wisata, pantai, dan tempat wisata lainnya, bukan? Tapi pernahkah Piders terpikirkan untuk mengunjungi situs cagar budaya religi selain Masjid Gedhe? Nah, kali ini kita akan mengulas salah satu tempat bersejarah di Yogyakarta, yaitu Masjid Pathok Negoro Ploso Kuningan.
Sebelumnya nih Piders, masjid pathok negoro itu direncanakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwana I, Sultan Pertama Keraton Yogyakarta sebagai bentuk tanggung jawab gelar Kalifatullah Panatagama. Artinya ia memiliki tanggung jawab dalam bidang keagamaan. Sri Sultan Hamengku Buwana I melaksanakan ini dengan meletakkan kiai-kiai di wilayah yang jauh dari pusat kerajaan. Para kiai tersebut akan melaksanakan syiar agama yang berpusat di masjid pathok negoro di wilayahnya.
Tidak hanya sebagai bentuk tanggung jawab Sultan pada keagamaan saja, sesuai dengan arti pathok negoro yaitu batas negara. Jadi masjid pathok negoro juga berfungsi sebagai penanda batas kerajaan, terutama setelah Perjanjian Gianti.
Oh ya Piders, Keraton Yogyakarta memiliki empat masjid pathok negoro yang tersebar di empat penjuru mata angin. Salah satunya Masjid Pathok Negoro Ploso Kuning yang terletak di Ploso Kuning, Ngaglik, Sleman. Masjid yang berada di wilayah utara pusat keraton ini mulai dibangun sejak 1724 masehi. Sehingga masjid ini lebih dahulu ada dari pada Keraton Yogyakarta yang dibangun pada 1755 masehi.
Pemberian nama Ploso Kuning sendiri dikarenakan sebelum masjid ini dibangun terdapat pohon Ploso atau Butea Monosperma yang memiliki bunga berwarna kuning. Sehingga pemimpin keraton kala itu menyebut daerah ini dengan Ploso Kuning.
Arsitektur Masjid Ploso Kuning
Jika Piders nanti atau pernah berkunjung ke Masjid Ploso Kuning, coba cermati bangunan Masjid Ploso Kuning. Sekilas memiliki kemiripan dengan Masjid Gedhe Yogyakarta yang berada di pusat kesultanan. Sehingga Masjid Pathok Negoro Ploso Kuningan ini disebut sebagai miniatur dari Masjid Gedhe Yogyakarta. Ini disebabkan Masjid Ploso Kuningan dahulu terletak di selatan lokasi masjid saat ini dan dipindahkan ke tempat saat ini setelah Masjid Gedhe Yogyakarta selesai dibangun. Sehingga arsitektur bangunannya mengikuti Masjid Gedhe Yogyakarta.
Masjid Ploso Kuning ini memiliki arsitektur Jawa seperti atap gunungan (meru) yang tumpang atau bersusun dan berbentuk limas. Pada bagian atap di bagian atas terdapat mahkota atau Mustoko Gada bersulur yang terbuat dari tanah liat. Mahkota ini hingga saat ini masih terpasang di puncak atap masjid. Selain itu Piders, Masjid Ploso Kuning memiliki dua gerbang masjid berarsitektur Majapahit.
Piders, walaupun sudah mengalami pemugaran, masjid ini masih menampilkan bentuk aslinya dibandingkan masjid pathok negoro lainnya. Hal ini ditunjukkan terdapat kolam atau Blumbang yang sudah ada sejak Masjid Ploso Kuningan ini digunakan. Kolam tersebut dahulu digunakan untuk bersuci sebelum memasuki masjid dan sebagai penyejuk di area masjid. Tidak hanya itu, beberapa tiang masjid, mimbar, serta penyangga beduk pun masih asli.
Hingga saat ini Masjid Ploso Kuningan masih digunakan sebagai tempat ibadah dan kegiatan keagamaan dan sosial masyarakat sekitar. Masjid ini juga menjadi situs Cagar Budaya Yogyakarta dan sudah mengalami konservasi sebanyak lima kali. Jadi, Masjid Ploso Kuning ini akan terjaga kelestariannya lho Piders. Jangan lupa berkunjung ya ketika ke Yogyakarta Piders!
Penulis: Muhammad Irfan Habibi
Editor : Adi Suwarno
Desain grafis : Nashruddin Hasan
