Belakangan ini, banyak sekali kabar-kabar yang menggemparkan jagat media sosial mulai dari berita lokal sampai berita mancanegara. Seperti kasus Rachel Vennya yang kabur saat karantina, video liputan tentang mentoring poligami yang sempat viral, sampai skandal aktor Korea, Kim Seon Ho, yang beritanya ramai hampir di seluruh dunia. Kasus-kasus yang menyita perhatian masyarakat ini menuai banyak sekali komentar di media sosial seperti Tiktok, Instagram, sampai-sampai grup WhatsApp. Banyak reaksi-reaksi yang beragam datang dari masyarakat dalam menyikapi kasus-kasus tersebut.
Beberapa reaksi masyarakat yang paling sering dilakukan orang Indonesia adalah berkomentar pada akun sosial media yang bersangkutan, membuat video-video singkat yang berhubungan, mengunggah foto-foto yang bersangkutan, dan sebagainya. Reaksi ini pun tidak hanya datang dari individu saja, bahkan sering kali organisasi, komunitas, serta perusahaan menggunakan kesempatan ini untuk mengangkat berita tersebut dan menjadikannya konten. Kontennya pun ada yang positif yaitu yang bersifat mengedukasi atau berita negatif yang hanya menyindir saja.
Terlepas dari seberapa banyak reaksi masyarakat terhadap suatu kasus atau berita yang sedang viral, ada satu hal yang harus menjadi perhatian orang-orang Indonesia, yaitu bagaimana membatasi diri dari berperilaku over-reaktif.
Perilaku over-reaktif terhadap berita-berita yang beredar tampaknya sering kita saksikan di Indonesia. Seringkali orang-orang mengomentari berita bahkan ketika kabar itu masih simpang siur. Sebagai contoh, kasus skandal aktor korea Kim Seon Ho yang ramai diperbincangkan sekitar tiga bulan lalu. Jagat media sosial sudah langsung ramai padahal saat itu berita yang tersebar di internet hanya kisahnya saja, tanpa ada tudingan nama yang menjurus pada aktor pemeran Hong du shik di Hometown chachacha ini. Komentar semakin memanas ketika dikonfirmasi bahwa tokoh dalam cerita yang beredar itu adalah Kim Seon Ho. Banyak reaksi yang langsung menyudutkan aktor ini. Komentar-komentar menjatuhkan bertebaran di internet, berita-berita langsung dipublikasi di media massa, organisasi atau komunitas yang bergerak di bidang women equality atau mental health sudah mulai ramai menjadikan aktor Kim Seon Ho sebagai bahan bulan-bulanan di konten edukasinya.
Saat itu, image ‘anak baik’ yang disematkan para penggemar aktor ini mendadak menguap dan berubah menjadi sosok yang sangat mengecewakan. Selain itu, penggemar maupun orang-orang yang tertarik dengan kasus ini pun berbondong-bondong menyuarakan bahwa Kim Seon Ho harus mendapatkan sanksi sosial, seperti tidak lagi muncul di TV. Ini juga merupakan salah satu langkah yang diambil salah satu stasiun televisi korea yang memutus kontrak dengan Kim Seon Ho untuk salah satu program yang diperankannya.
Namun, tidak lama setelah itu, muncul berita-berita baru yang menyatakan bahwa Kim Seon Ho tidak seburuk yang diceritakan oleh kisah yang dituliskan seseorang berinisial A. Satu persatu fakta tentang siapa yang benar mulai terungkap sehingga orang-orang banyak yang mengaku menyesal telah salah menilai aktor ini ketika awal skandal tersebut muncul.
Dari fenomena ini, kita dapat belajar bahwa memberi reaksi terhadap sesuatu itu hal yang wajar. Namun jangan sampai reaksi yang kita berikan menjadi berlebihan apalagi jika berita yang tiba-tiba muncul ini belum terverifikasi kebenarannya. Jangan sampai berita hoaks atau berita yang belum pasti semakin meluas hanya karena respon kita yang berlebihan dalam menyikapinya. Dampak dari perilaku gegabah ini dapat merugikan banyak orang, khususnya orang-orang yang terlibat di dalamnya. Maka, penting bagi kita untuk dapat berpikir kritis, jernih, dan menahan diri dari memberikan reaksi yang berlebihan.
Penulis: Nur Hammamurrizki
Editor: Adi Suwarno
