0 0
Read Time:3 Minute, 33 Second



Siapa, sih, yang tidak mau kuliah di luar negeri? Tidak hanya untuk program master dan doktoral, ada banyak siswa SMA yang ingin mendapatkan beasiswa di luar negeri. Tentu saja semua juga mendukung faktor-faktor pendukung yang menarik hati. Salah satu negara favorit pelajar Indonesia adalah Negara Jerman.

Ada ribuan mahasiwa/i Indonesia yang berkuliah di Jerman, terutama untuk jenjang S1. Hal ini pasti membuat banyak orang bertanya-tanya apa, sih, sebenarnya yang ditawarkan negara Jerman hingga banyak pelajar asing – tidak hanya Indonesia – yang memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Jerman?

1. Biaya Kuliah Gratis untuk Universitas Negeri

 

Pemerintah Jerman menggratiskan biaya pendidikan termasuk untuk kuliah. Tapi, ingat! Perlu digarisbawahi, biaya kuliah gratis ini tidak diperlukan di seluruh universitas yang ada di Jerman. Untuk universitas swasta tetap kuliah, mahal, dan beberapa tahun menghabiskan ini, negara bagian Baden Württemberg membutuhkan mahasiswa dari luar Uni Eropa untuk membeli uang kuliah. Tapi jangan khawatir, masih banyak, kok, universitas lain yang menggratiskan biaya kuliah.

2. Semesterticket

 

Memang di sini mahasiswa tidak membayar uang kuliah, tetapi setiap semester awal mahasiswa membayar untuk Semerterticket . Apa itu Semesterticket adalah tiket transportasi yang berlaku satu semester. Dengan tiket ini kita bisa menggunakan transportasi sebebas mungkin tanpa harus membeli tiket lagi, tetapi ini hanya berlaku di zona tertentu, bukan se-Jerman. Semua ini tergantung pada kebijakan masing-masing universitas. Ada yang hanya berlaku di satu kota, dua kota dan bahkan satu negara bagian. Harganya tentu juga berbeda setiap universitasnya. Contohnya, di Universitas Augsburg seharga 112 Euro per semester, tetapi hanya berlaku di kota Augsburg dan desa-desa kecil di sekitarnya.Sedangkan, di Universitas Halle seharga 240 Euro per semester yang berlaku untuk dua kota, yaitu Kota Halle dan Leipzig.

3.  Made in Germany 

 

Tentu mendapat kebanggan dan kepuasan khusus menjadi persiapan Jerman. Produk-produk yang Made in Germany  hanya memiliki nilai lebih, lebih tinggi dibandingkan dengan salah satu universitas yang ada di negara Jerman.

4. Kuliah S1 di Jerman 6 Semester

 

Nah , tidak semua jurusan juga, sih, yang punya jangka waktu studi enam semester, t api memang kebijakan di Jerman itu hanya enam semester. Cepat ya? Iya, saking cepatnya gitu berhasil membuat ngos-ngosan. Orang Jerman sendiri lebih suka semester enam, lebih banyak mahasiswa yang butuh lebih banyak belajar di kampus, tetapi untuk jurusan teknik juga ada yang sampai selesai semester. Setiap jurusan punya masa studi yang berbeda.

 

5. Keliling Eropa

 

Mau kuliah atau jalan-jalan? Memang tujuan utama kita adalah untuk berkuliah, tetapi tidak ada salahnya juga untuk refreshing negara-negara tetangga Jerman. Liburan itu penting. Setelah belajar dan bekerja dengan keras untuk mereka yang juga bekerja selama waktu. Nah, dengan tinggal di sini kamu bisa ke negara manapun kamu mau. Syaratnya menyelam sambil minum air, sambil belajar tapi juga travelling.

 

6. Bekerja paruh waktu

 

Jerman bisa dibilang negara yang sangat pas untuk pelajar asing. Selain uang kuliahnya yang gratis, peluang siswa untuk bekerja di sini juga lebih besar dari negara lain. Teman-teman bisa kerja di restoran, supermarket, pabrik coklat, dsb. Gaji yang didapat juga lumayan banget bisa didapat kebutuhan hidup. Untuk mencari kerjaan bisa cari infonya di kampus, situs web, koran atau ada agen kerja juga. Tinggal daftar ke agennya dan nanti mereka akan mencabut kerjaan untuk kita. Tapi tolong jika ada agen juga untuk mereka ha-ha-ha. Ya, masa udah enak-enak dicariin kerjaan tapi mereka gak dapet apa-apa, gak mungkin kan?

Nah, gimana? Makin semangat untuk kuliah ke Jerman? Tapi jangan lupa, lho, tetap cari informasi lebih banyak tentang Jerman. Supaya nanti tidak ada penyesalan. Di balik keindahannya Jerman, pasti ada juga sisi negatif yang membuat kamu harus lebih keras lagi untuk bisa lulus dari perkuliahan Jerman.

 

_____

Penulis: Cynthia Utami (Reporter PPI TV 2019-2020)

Editor: Dewi Sartinah (Editor & blog writer  PPI TV 2019-2020)

Cynthia Utami, gadis Minang yang lahir pada tanggal 12 Agustus 1995 di Kota Padang, Sumatera Barat. Saat artikel ini dibuat, penulis sedang menempuh pendidikan S1 di Universitas Martin Luther, Jerman. Berkecimpung di jurusan sosiologi dan media komunikasi, jadi tidak heran jika penulis sibuk di banyak organisasi pelajar. Penulis juga aktif berbagi informasi atau cerita di media sosial Instagram @ cynthiautami12 atau YouTube dengan saluran Kak Icyn. Untuk tahu lebih jauh bisa langsung saja ke media sosial penulis. Salam.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By PPI TV

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *